BPS: Terjadi Deflasi Tertinggi pada April

Terkendalinya harga bahan makanan dan penurunan tarif transportasi membuat siklus deflasi pada April kembali terjadi. April tahun ini, Indonesia mencatatkan deflasi 0,45% (mtm)
Kurniawan A. Wicaksono | 02 Mei 2016 11:47 WIB
Ilustrasi - Antara

Bisnis.com, JAKARTA– Terkendalinya harga bahan makanan dan penurunan tarif transportasi membuat siklus deflasi pada April kembali terjadi. April tahun ini, Indonesia mencatatkan deflasi 0,45% (mtm)

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin mengatakan deflasi 0,45% ini juga mencatatkan deflasi tertinggi tiap periode April sejak 2000. Jika dibandingkan posisi April 2015, inflasi sebesar 3,6%.

“Kalah dengan 1999 saja yang deflasi 0,68%. April ini memang terjadi deflasi dan menunjukkan harga perkembangan komoditi bahan pokok terkendali,” katanya dalam konferensi pers, Senin (2/5/2016).

Capain deflasi ini setidaknya lebih tinggi dari survei Bisnis terhadap sepuluh ekonom pada Minggu, (1/5/2016). Seluruh ekonom memproyeksi adanya deflasi dengan median 0,29% (mtm) atau inflasi 3,76% (yoy).

Suryamin mengatakan harga bahan makanan mengalami deflasi 0,94%. Hal ini dipengaruhi penurunan harga padi-padian, beras, daging, ikan segar, ikan olahan, telur, dan bumbu-bumbuan.

Tarif dasar listrik dn bahan bakar minyak yang turun memberikan stimulus pada tingkat deflasi. Pada saat yang bersamaan, komponen transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan yang mengalami deflasi tertinggi, yakni 1,6%.

“Ini akibat penurunan tarif angkutan baik dalam kota maupun luar kota. Demikian juga angkutan udara,” katanya.

Dia mengatakan dari 82 kota IHK, 73 kota mengalami deflasi. Sementara sisanya, 5 kota masih mengalami inflasi. Deflasi tertinggi pada pada Sibolga dengan capaian 1,79%. Sementara inflasi tertinggi ada pada Tarakan sebesar 0,45%.

Tag : Inflasi
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top