Indeks Manufaktur di Asia Masih Relatif Lambat

Kegiatan manufaktur Jepang menyusut pada bulan April dipicu oleh gempa bumi mematikan yang mengganggu produksi, sementara produksi di Cina dan kawasan Asian lainnya masih menunjukkan performa.
Renat Sofie Andriani | 02 Mei 2016 14:56 WIB
Manufaktur China - Reuters

Bisnis.com, SYDNEY – Kegiatan manufaktur Jepang menyusut pada bulan April dipicu oleh gempa bumi mematikan yang mengganggu produksi.

Sementara itu, produksi di China dan kawasan Asian lainnya masih menunjukkan performa.

Seperti dilansir Reuters  hari ini, Senin (2/5/2016), indeks manufaktur Jepang Nikkei/Markit (PMI) drop ke bawah level 50 menjadi level 48,2 di bulan April dari angka 49,1 pada Maret.

Penyusutan indeks manufaktur Jepang dengan laju tercepat dalam lebih dari tiga tahun terjadi setelah gempa bumi melanda wilayah Kumamoto, Jepang pertengahan bulan lalu dan memukul basis manufaktur di negara tersebut .

Di lain sisi, keraguan tentang amunisi kebijakan meningkat pekan lalu pekan lalu ketika bank sentral Jepang Bank of Japan (BoJ) menahan diri untuk memberikan stimulus lebih dan membuat bursa saham terhuyung-terhuyung seiring dengan pelonjakan mata uang yen ke level tertinggi dalam 18 bulan.

Kondisi yang sedikit lebih baik datang dari China menyusul rilis PMI yang mencapai angka 50,1 pada April, membawa kesejukan bagi mereka yang berharap akan stimulus fiskal dan moneter dari Beijing.

Di Australia, para perusahaan melaporkan performa penjualan, profit, dan tenaga kerja yang juga solid di bulan April, menunjukkan perekonomian yang lebih luas meski didera perlambatan dalam investasi pertambangan.

Sementara di Korea Selatan, kegiatan manufaktur berjalan lebih stabil pada April setelah berkontraksi sela tiga bulan berturut-turut dengan indeks Nikkei/PMI market naik ke angka 50 dari 49,5 di bulan Maret.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
indeks manufaktur

Sumber : Reuters

Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top