Inflasi Rendah, Target Pertumbuhan Ekonomi Terancam

Inflasi Mei 2016 yang bertengger rendah 0,24% (month to month/mtm) dan 3,33% (year on year/yoy) mengindikasikan tingkat daya beli masyarakat yang melemah sehingga target pertumbuhan ekonomi 5,3% sepanjang tahun ini sulit tercapai.
Fauzul Muna | 02 Juni 2016 03:30 WIB
Plastik berbayar mulai diberlakukan di peritel modern - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Inflasi Mei 2016 yang bertengger rendah 0,24% (month to month/mtm) dan 3,33% (year on year/yoy) mengindikasikan tingkat daya beli masyarakat yang melemah sehingga target pertumbuhan ekonomi 5,3% sepanjang tahun ini sulit tercapai.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin mengatakan dengan capaian inflasi rendah tersebut, indeks harga konsumen (IHK) sepanjang Januari hingga Mei 2016 mengalami inflasi 0,40%. Sejalan dengan inflasi yang rendah, inflasi komponen inti juga terbilang rendah di level 0,23% (mtm), 3,41% (yoy), dan 1,19% (ytd).

Selain itu, harga yang diatur pemerintah (administered price) juga mengalami inflasi rendah 0,27%, bahkan secara tahun ke tahun mengalami deflasi 0,95% dan tahun kalender deflasi 3,05%. Capaian ini dikarenakan harga minyak yang anjlok sehingga pemerintah menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM).

Inflasi cukup tinggi hanya terjadi pada komponen harga yang bergejolak yakni sebesar 0,32% (mtm), 8,15% (yoy), dan 1,73% (ytd). Inflasi paling tinggi disumbang oleh daging ayam ras yang mengalami kenaikan 17% dengan andil 0,08%. Kemudian disusul tarif angkutan udara yang menanjak 6,59% dengan andil 0,06% terhadap inflasi. Di sisi lain, cabai merah mengalami deflasi 10,4% dengan andil 0,06%.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Dzulfian Syafrian mengatakan tingkat inflasi terutama inflasi inti yang rendah mengindikasikan adanya perlambatan daya beli masyarakat. Kondisi tersebut cukup mengkhawatirkan karena biasanya masyarakat akan sangat konsumtif menjelang Ramadhan dan Idulfitri.

"Kalau bulan besok masih rendah juga, berarti ekonomi kita lampu kuning karena tanda adanya pelemahan konsumsi/daya beli masyarakat," katanya kepada Bisnis di Jakarta, Rabu (1/6/2016).

Inflasi inti merupakan inflasi yang cenderung menetap di dalam pergerakan inflasi yang sebagian besar dipengaruhi faktor permintaan dan penawaran. Selain itu, juga dipengaruhi faktor eksternal seperti nilai tukar, harga komoditas internasional, dan inflasi mitra dagang.

Kondisi ini akan berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi sepanjang 2016 karena perekonomian nasional masih bergantung pada sektor konsumsi. Jika Juni tingkat konsumsi yang terlihat dari inflasi masih rendah pada Juni 2016, dia menilai target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3% sesuai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akan sulit terwujud.
"Jangankan 5,3%, pertumbuhan ekonomi 5% saja sulit," tegasnya.

Ekonom PT Bank Permata Tbk Josua Pardede membenarkan tren penurunan inflasi inti menunjukkan masih lemahnya daya beli masyarakat, padahal sektor ini yang paling berkontribusi pada perekonomian Indonesia yakni 56%. Inflasi inti tersebut masih jauh dari angka ideal 4% hingga 4,5% sesuai target inflasi BI pada tahun ini dan tahun depan.

Melihat kondisi inflasi inti yang masih rendah, dia memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun ini akan bertengger di level 5%. Dia menganalisis akan ada perbaikan konsumsi asalkan penurunan BI Rate berdampak di semester II. Level pertumbuhan ekonomi 5% juga ditopang pertumbuhan investasi di semester II/2016.

Senior Economic Analyst Kenta Institute Eric Alexander Sugandi menjelaskan pelemahan permintaan disebabkan perlambatan aktivitas ekonomi dan penurunan harga komoditas. Kondisi ini dipengaruhi daya beli pemilik aset berbasis komoditas seperti pemilik kebun karet dan sawit. Pelemahan daya beli juga terjadi pada pekerja sektor perkebuhan.

Dia memprediksi akan ada perbaikan daya beli pada Juni 2016 karena peningkatan permintaan musiman pada waktu Ramadhan dan dekat dengan Idulfitri. Angka inflasi bulan ini diperkirakan 0,8%. Proyeksi inflasi hingga akhir tahun sekitar 3,2%.

"Namun ytd [year to date/inflasi tahun kalender] ada tanda-tanda pelemahan permintaan," jelasnya.

PERBAIKAN

Dzulfian meminta pemerintah fokus untuk meningkatkan daya beli masyarakat agar target pertumbuhan ekonomi tercapai. Kondisi saat ini perekonomian dunia sedang melemah sehingga pasar ekspor nasional ikut lesu. Oleh karena itu, pemerintah harus fokus pada pembenahan ekonomi domestik untuk menggenjot daya beli.

Pokok masalah perekonomian domestik ada pada sisi suplai atau produksi yang mengalami berbagai hambatan yaitu birokrasi, regulasi, dan kepastian hukum. Akhirnya perekonomian Indonesia cenderung mahal (high cost economy). Jika persoalan tersebut dibenahi, pelaku usaha akan berani melakukan investasi sehingga menciptakan lapangan kerja. "Dengan sendirinya pendapatan masyarakat dan nasional naik," tambahnya.

Dihubungi terpisah, Kepala Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) menambahkan perbaikan iklim bisnis terutama fokus pada usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta mempercepat penyaluran dana desa sekaligus memantau penggunannya. Selain itu, pemerintah juga harus mengatur administered prices seperti tarif dasar listrik (TDL) dan tarif gas.
Di sisi lain, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution membantah tingkat daya beli masyarakat memburuk. Menurut dia, konsumsi masyarakat stabil.

"Kalau masih ada inflasi belum bisa disimpulkan begitu [daya beli melemah],  kalau negatif [deflasi] baru bisa disimpulkan begitu," tuturnya.

Dia mengklaim inflasi yang rendah sebagai cerminan upaya pemerintah menahan kenaikan harga pangan. Meskipun hingga saat ini belum ada penurunan harga pangan yang signifikan.
"Mungkin tidak turun, tapi tidak naik," ungkapnya.

Lebih jauh, Darmin menuturkan revisi pertumbuhan ekonomi masih belum akan dilakukan. Dia mengharapkan nilai ekspor Indonesia tidak turun, kemudian investasi dan belanja pemerintah semakin membaik sehingga menggenjot pertumbuhan ekonomi tahun ini.

Tag : tekanan inflasi
Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top