Sejumlah Faktor Picu Inflasi Juli 2016 Cukup Tinggi di Sulut

Inflasi Sulawesi Utara pada Juli 2016 tercatat 0,84% yang disebabkan naiknya harga jasa transportasi udara, komunikasi dan jasa keuangan pada masa liburan perayaan Idulfitri.
David Eka Issetiabudi
David Eka Issetiabudi - Bisnis.com 02 Agustus 2016  |  00:42 WIB
Sejumlah Faktor Picu Inflasi Juli 2016 Cukup Tinggi di Sulut
Inflasi - Ilustrasi

Bisnis.com, MANADO - Inflasi Sulawesi Utara pada Juli 2016 tercatat 0,84% yang disebabkan naiknya harga jasa transportasi udara, komunikasi dan jasa keuangan pada masa liburan perayaan Idulfitri.

Secara tahunan, inflasi Sulut pada Juli 2016 tercatat sebesar 3,47% (yoy). Angka realisasi inflasi tersebut relatif lebih tinggi dari prakiraan sebelumnya, didorong oleh kenaikan harga komoditas via angkutan udara dan tomat sayur yang lebih tinggi dari prakiraan.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Utara Peter Jacobs mengatakan kondisi yang memengaruhi inflasi besar dipengaruhi oleh masa libur dan perayaan hari besar keagamaan yang mendorong tingkat permintaan.

Di sisi lain, menurutnya, walaupun mengalami penurunan dari bulan sebelumnya kelompok volatile food tercatat memberi sumbangan yang cukup besar pada inflasi bulanan. Hal tersebut tidak terlepas dari perkembangan harga bawang merah dan tomat sayur yang secara rata-rata masih lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya.

“Pada Agustus, risiko tekanan inflasi Sulut diperkirakan mengalami penurunan bahkan membuka peluang terjadinya deflasi. Normalisasi harga seusai hari raya terutama pada komoditas angkutan udara akan mendorong terjadinya koreksi harga secara umum,” katanya, di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Utara, Senin (1/8/2016).

Dia menambahkan harga komoditas strategis seperti bawang merah dan tomat sayur juga diproyeksikan mulai mengalami penurunan pada Agustus seiring cukup mendukungnya kondisi cuaca serta panen di daerah penghasil luar Sulut.

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sulawesi Utara Sanny Parengkuan mengatakan mengenai komoditas yang biasa memengaruhi tingginya inflasi akan dicarikan solusi dengan mengkaji kemungkinan adanya unfair trading.

“Petani, pedagang hingga konsumen harus punya keuntungan yang sama. Jangan sampai ada satu pihak yang tidak mendapatkan keuntungan,” tuturnya.

Dia menambahkan upaya pengendalian inflasi terus dilakukan dengan sinergi yang semakin baik antar pemerintah kota maupun provinsi, lewat adanya Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID).

Inflasi kali ini terjadi akibat kenaikan indeks pada seluruh kelompok pengeluaran yaitu kelompok bahan makanan sebesar 1,42%; kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau sebesar 0,30%; kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,315; kelompok sandang sebesar 0,37%; kelompok kesehatan sebesar 0,62 %; kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar 0,12%; dan kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 1,93%.

Komoditas yang mengalami kenaikan harga, a.l angkutan udara, bawang merah, tomat sayur, cakalang sisik, tarif listrik, seng, kembang kol, tindarung, bawang putih, bahan bakar rumahtangga, dan lain-lain.

Sementara itu, komoditas yang mengalami penurunan harga antara lain cabai rawit, beras, bayam, anggur, daging babi, jahe, jeruk, kayu lapis, tissue, bunga papaya, dan lainnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Inflasi

Editor : Yusuf Waluyo Jati

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup