Sentuh 2,3%, Inflasi di Sulsel Semester I/2016 Dinilai Masih Terjaga

Laju inflasi Sulawesi Selatan secara kumulatif sepanjang tahun ini telah mencapai level 2,3% namun dinilai masih dalam level terjaga.
Amri Nur Rahmat | 02 Agustus 2016 01:42 WIB
Pasar tradisional - Bisnis.com

Bisnis.com, MAKASSAR - Laju inflasi Sulawesi Selatan secara kumulatif sepanjang tahun ini telah mencapai level 2,3% namun dinilai masih dalam level terjaga.

Adapun pada Juli 2016 laju inflasi mencapai 1,04% lebih tinggi dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang berada pada level 0,45%, dan deflasi secara berturut-turut pada dua bulan sebelumnya sebesar 0,08% dan 0,39%.

Kepala BPS Sulsel Nursam Salam mengatakan pembengkakan laju inflasi pada Juli 2016 merupalan interpretasi kondisi harga saat bulan puasa lalu yang cenderung mengalami kenaikan seiring dengan lonjakan konsumsi masyrakat.

Menurutnya, pembentukan inflasi pada Juli terjadi pada enam kelompok pengeluaran mengalami kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya indeks harga pada kelompok bahan makanan sebesar 2,83%, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 0,35%.

Sedangkan kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar 0,17%, kelompok sandang sebesar 0,69%, ditambah kelompok pendidikan, rekreasi dan otahraga sebesar 0,2% dan kelompok transport komunikasi dan jasa keuangan 1,12%.

"Tetapi beberapa komoditas masih tetap stabil sehingga laju inflasi tidak terlalu tinggi," katanya dalam paparan resmi, Senin (1/8/17).

Kendati mengalami peningkatan dibandingkan bulan sebelumnya, laju inflasi pada Juli 2016 masih lebih rendah jika dibandingkan dengan laju inflasi Januari 2016 sebesar 1,14% serta Februari 2016 yang mencapai 1,22%.

Kondisi tersebut, kata Nursam, merupakan bentuk dari pengendalian inflasi dari Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) cukup berhasil dilakukan oleh instansi terkait. "Didukung oleh stok barang yang cukup tersedia. Keduanya harus sejalan. Tidak akan berhasil penekanan harga tanpa stok yang memadai," bebernya.

Di luar itu, tambahnya, yang menarik di Sulsel yakni garis kemiskinan terendah. Hasil penelusuran, ternyata ditopang oleh pola mata rantai distribusi yang pendek sehingga lebih efesien dalam biaya transportasinya.

"Makanya harga relatif aga murah sebab biaya pengangkutanya terpangkas oleh proses distribusi yang pendek itu," tambahnya.

Sementara itu, Deputi Direktur Kepala Divisi Advisory Ekonomi dan Keuangan, KPw BI Sulsel, Miyono, menjelaskan inflasi Juli 2016 memang sedikit di atas perkiraan bank sentral. "Tetapi dari sisi inflasi tahun kalender Januari-Juli 2016 itu sudah sesuai dengan proyeksi kita di angka inflasi 2,3%," katanya.

Tag : Inflasi
Editor : Yusuf Waluyo Jati

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top