SAMUEL SEKURITAS: Inflasi Desember Berpeluang Turun

Samuel Sekuritas Indonesia mengoreksi proyeksi inflasi 2017, setelah mempertimbangkan pasar uang dan harga minyak
Linda Teti Silitonga | 02 Desember 2016 12:37 WIB
Ilustrasi. - .Bisnis/Alby Albahi

Bisnis.com, JAKARTA – Samuel Sekuritas Indonesia mengoreksi proyeksi inflasi 2017, setelah mempertimbangkan pasar uang dan harga minyak.

“Kami mengoreksi naik proyeksi inflasi 2017 dari 4,5% menjadi 4,6% YoY, melihat potensi harga minyak serta proyeksi rupiah per dolar yang lebih tinggi,” kata kekhawatiran atas kerusuhan masih tersisa,” kata Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia Rangga Cipta dalam risetnya yang diterima hari ini, Jumat (2/12/2016).

Inflasi November 2016 naik ke 3,58% YoY, lebih tinggi dari perkiraan 3,48% YoY dan konsensus yang 3,41% YoY.

Inflasi November lebih dipicu kenaikan harga pangan, terutama cabai dan bawang merah. Inflasi inti masih stabil sedikit di atas 3% YoY.

“Desember 2016 inflasi tahunan berpeluang turun ke 3,3%-3,4% YoY, walaupun di 2017 diperkirakan kembali naik ke 4,5-4,6% YoY dengan prospek kenaikan harga minyak serta tarif listrik,” kata Rangga.

Harga pangan bulanan naik tajam ke 1,66% MoM di November 2016, dan berpeluang terus naik hingga Januari 2017 akibat faktor musiman. Kali ini kenaikan terutama dipicu oleh naiknya harga cabai dan bawang merah.

Kenaikan harga pangan bulanan mendorong inflasi tahunan naik hingga 3,58% YoY, tetapi di Des16 bisa turun ke kisaran 3,3-3,4% YoY.

“Selepas kuartal I/2017, inflasi tahunan diperkirakan mulai beranjak ke kisaran 4-4,5% hingga akhir 2017,” kata Rangga.

Seperti diketahui inflasi Indonesia pada November 2016 tercatat lebih tinggi dari ekspektasi pasar.

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan laju inflasi inflasi pada bulan lalu sebesar 0,47% (month to month/mtm) atau 3,58% (year on year/yoy).

Salah satu indikator ekonomi makro ini terkerek dari posisi bulan sebelumnya 0,14% (mtm) atau 3,31% (yoy).

Realisasi ini sedikit lebih tinggi dari survei Bisnis sebelumnya terhadap 11 ekonom dari lembaga atau instansi yang berbeda. Dalam survei tersebut, mereka memproyeksi laju inflasi November tahun ini memang terkerek tapi hanya di level 0,33% (mtm) atau 3,41% (yoy).

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Sasmito Hadi Wibowo mengatakan inflasi terjadi pada 78 kota. Sementara, 4 kota lainnya mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di kota Manado, sebesar 2,86%.

“Manado indentik dengan daerah dabu-dabu. Bulan lalu, tomat, cabai, bawang harganya mahal semua. Ini yang mengerek inflasi,” katanya saat konferensi pers, Kamis (1/12/2016).

Sementara, empat kota yang mengalami deflasi mayoritas berada di daerah timur Indonesia, dengan deflasi tertinggi di Bau-Bau sebesar 1,54%. Performa ini, lanjut Sasmito, dikarenakan penduduk di daerah tersebut lebih banyak mengonsumsi ikan. Harga ikan sedang murah bulan lalu.

Secara total, variable pengerek inflasi paling besar yakni bahan makanan., terutama dari sisi tomat, cabai rawit dan cabai merah. Selain itu, ada Makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau. Hal ini salah satunya dipengaruhi oleh kenaikan harga rokok pascaperubahan tarif cukai.

Selain itu, untuk sewa rumah juga mengalami kenaikan. Pada saat yang bersamaan, variable sandang mengalami deflasi karena didukung turunnya emas dan perhiasan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Inflasi

Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top