Faktor Musiman Tekan Kinerja Ekspor Februari

Faktor musiman memicu penurunan kinerja ekspor Indonesia pada Februari 2017 hingga memicu penyusutan surplus neraca perdagangan sebesar 5,71% menjadi US$ 1,32miliar dari US$ 1,4 miliar pada Januari 2017.
Hadijah Alaydrus | 15 Maret 2017 21:15 WIB
Tumpukan kontainer yangdi terminal peti kemas di kawasan Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA—Faktor musiman memicu penurunan kinerja ekspor Indonesia pada Februari 2017 hingga memicu penyusutan surplus neraca perdagangan sebesar 5,71% menjadi US$ 1,32miliar dari US$ 1,4 miliar pada Januari 2017.

Ekspor Indonesia pada Februari 2017 mengalami penurunan sebesar -6,17% menjadi Us$12,57 miliar (month to month/mtm) dibandingkan dengan US$13,40 miliar pada Januari 2017.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan Suharinyanto mengungkapkan penurunan dari Januari-Februari itu lebih disebabkan oleh faktor musiman.

“Februari ini dibandingkan posisi Januari 2017 terjadi penurunan -6,17% karena seasonal,” tegasnya dalam laporan ekspor impor Februari 2017, Rabu (15/3).

Dia menambahkan penurunan ekspor Februari 2017 disebabkan oleh melemahnya kinerja ekspor nonmigas Indonesia sebesar 6.21% dari US$12,13 miliar menjadi US$11,37 miliar.

Seperti yang diketahui, ekspor nonmigas Indonesia sangat mendominasi perdagangan luar negeri dengan persentase mencapai 90%.

Penurunan ekspor nonmigas terbesar pada Februari 2017 terjadi pada komoditas bijih, kerak dan abu logam sebesar US$316,0 juta atau 99,12%. Sementara itu, Suhariyanto mengatakan ekspor migas Indonesia yang turun lebih disebabkan oleh penurunan ekspor hasil minyak sebesar 42,66% menjadi US$93,9 juta dan gas yang turun 4,25% menjadi US$696,6 juta Februari.

Dari laporan BPS, nilai impor Februari 2017 juga mengalami penurunan 5,96% menjadi US$11,25 miliar, dibandingkan Januari 2017 (mtm). Menurut Kepala BPS, penurunan ini disebabkan adanya impor nonmigas yang turun 12,93% menjadi US$8,83 miliar.

Dari golongannya, penurunan ini dipicu oleh penurunan impor barang jenis mesin dan alat listrik, mesin dan peralatan mekanik serta senjata dan amunisi, perhiasan dan barang plastik.

Impor mesin dan alat listrik menyumbang penurunan terbesar dengan nilai US$287,1 juta atau 21,17%.

Adapun, nilai impor migas Ferbuari 2017 naik 32,71% menjadi US$2,43 miliar dibandingkan Januari 2017. Peningkatan ini dipicu oleh adanya impor minyak mentah yang terdongkrak US$414,9 juta atau 141,56%.

Kendati turun ekspor bulanan turun, Suhariyanto beharap kondisi surplus dalam neraca perdagangan akan meningkat pada bulan-bulan berikutnya. "Mudah-mudah suplus ke depan semakin meningkat," katanya.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bps, kinerja ekspor

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup