Fitch Ratings: Indonesia Bisa Naik Lagi

Di tengah ancang-ancang Standard & Poor's untuk menaikan rating kredit Indonesia, Fitch Ratings memberikan sinyal positif untuk kembali menaikan rating Indonesia satu tingkat lebih tinggi di atas investment grade.
Hadijah Alaydrus | 23 Maret 2017 18:17 WIB
Sejumlah analis memperhatikan pergerakan kurva surat berharga di layar monitor komputer - Jibiphoto

Bisnis.com, JAKARTA -- Di tengah ancang-ancang Standard & Poor's untuk menaikan rating kredit Indonesia, Fitch Ratings memberikan sinyal positif untuk kembali menaikan rating Indonesia satu tingkat lebih tinggi di atas investment grade.

Desember 2016, Fitch Ratings merevisi sovereign rating Indonesia dari stabil menjadi posiitif pada level BBB-.

Direktur Asia Pacific Sovereigns Fitch Ratings Thomas Rookmaaker mengungkapkan positive outlook-- yang diterima Indonesia pada tahun lalu -- berarti kemungkinan untuk peningkatan lebih besar daripada penurunan.

"Namun, kami akan melihat beberapa masalah, terutama apakah ekonomi [Indonesia] akan lebih kuat dalam menghadapi tantangan ke depannya," katanya kepada media di sela-sela Fitch Ratings' Indonesia Credit Briefing, Kamis (23/3/2017).

Salah satu yang akan menjadi penilaian Fitch adalah peningkatan investasi langsung asing (foreign direct investment/FDI). Menurut Rookmaaker, ekonomi Indonesia yang tidak bergantung pada komoditas akan menjadi poin positif.

Fitch akan memantau implementasi dari struktural reformasi makroekonomi untuk melihat bagaimana strategi Indonesia dalam menjaga pertumbuhan ekonomi yang tinggi dibandingkan dengan negara lain.

Country Head Indonesia dan Presdir PT Fitch Ratings Indonesia Indra Kompono mengatakan jika parameter yang sudah kita berikan kepada pemerintah sesuai dengan implementasi, kemungkinan untuk menaikan rating Indonesia sangat besar.

"Kalau kita memberikan positive outlook, kita pasti lihat rating agency lain juga memberikan view yang sama," paparnya.

Indikator kunci yang akan diperhatikan oleh Fitch a.l. penerimaan negara, pertumbuhan PDB, level utang dan beberapa program infrastruktur di seluruh Indonesia. Selain itu, perusahaan pemeringkat akan melihat apakah janji yang telah disampaikan oleh pemerintah selama ini telah terealisasi dengan baik atau belum.

Indra menambahkan pihaknya akan melihat perkembangan indikator tersebut dengan seksama dalam kurun waktu dua tahun kebelakang dan dua tahun ke depan.

Tahun ini, Fitch Ratings melihat pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dapat mendorong pertumbuhan sektor perbankan dalam jangka menengah.

Director Financial Institutions Fitch Ratings Indonesia Gary Hanniffy mengungkapkan tantangan operasi bank seharusnya perlahan menurun seiring dengan kondisi ekonomi yang menguat.

"Kita mengharapkan tanda stabilisasi performa bank pada 2017," ungkapnya. Permintaan utang kian melemah sejauh ini, namun Fitch mengingatkan potensi kenaikan permintaan di akhir tahun.

Risiko utama dari domestik yang patut diawasi adalah besarnya jumlah utang yang telah direstrukturisasi oleh bank. Menurut Fitch, kondisi ini dipicu oleh kebijakan otoritas perbankan dalam negeri.

Otoritas terkait telah melakukan relaksasi aturan restrukturisasi pada 2015 yang membantu bank untuk menghindari kenaikan NPL akibat tren penurunan harga komoditas.

"Kebanyakan restrukturisasi memuat perpanjangan jatuh tempo utang," kata Hanniffy.

Namun, kuatnya kapitalisasi bank besar dapat menjadi penyangga dari risiko ini karena rata-rata rasio tier 1 cukup sehat sekitar 19% pada akhir tahun lalu. Selain itu, kebanyakan bank dengan kapitalisasi besar telah memenuhi persyaratan Basel III.

Menurut Fitch, kenaikan peringkat rating Indonesia pada Desember 2016 tidak akan mempengaruhi kenaikan rating bank BUMN. Hal ini disebabkan oleh ketidakjelasan regulasi perbankan yang mungkin memuat penjaminan terhadap kreditor senior.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kredit, fitch ratings

Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup