PILPRES PRANCIS: Persaingan Para Kandidat Makin Ketat, Berikut Hasil Salah Satu Survei

Emmanuel Macron diperkirakan akan memenangi pemilu putaran pertama Prancis yang akan digelar pada bulan depan
Yustinus Andri DP | 25 Maret 2017 15:00 WIB
Kandidat Presiden Prancis (kiri ke kanan), Francois Fillon, Emmanuel Macron, Jean-Luc Melenchon, Marine Le Pen dan Benoit Hamon, berpose sebelum debat yang diselenggarakan oleh saluran TV swasta Prancis TF1 di Aubervilliers. - .Reuters

Bisnis.com, JAKARTA— Emmanuel Macron diperkirakan akan memenangi pemilu putaran pertama Prancis yang akan digelar pada bulan depan.

Lembaga survei BVA dalam laporannya mengatakan, Macron akan unggul tipis dari calon pemimpin dari partai sayap kanan Perancis Marine Le Pen.

Macron diperkirakan akan mendapatkan 26% suara pada pemilu putaran pertama, atau naik s1% dari survei yang dilakukan pada pekan lalu. Sementara itu, pada periode yang sama Le Pen harus melorot 1% menjadi 25%.

Sementara itu, kandidat Presiden Prancis yang berhaluan paling kiri yakni Jean-Luc Melenchon juga mengalami kenaikan dukungan. Dukungan baginya naik 2% dari pekan lalu menjadi 14%. Adapun survei ini dilakukan pada Rabu-Jumat pekan ini.

Melenchon dianggap oleh para pemilih menunjukkan performa yang baik dalam debat terbuka pertama di pada Senin (21/3/2017). Sementara itu, Macron juga terlihat telah dinilai menunjukkan kemampuan yang baik dalam memikat pemilih dalam debat tersebut.

Namun demikian, BVA tidak memaparkan prediksi jajak pendapat padai putaran kedua,

Sebelumnya, dalam debat terbuka awal pekan ini, isu penggunaan baju renang muslim menjadi topik yang paling panas dan menarik perhatian warga Prancis maupun dunia.

Dalam debat itu Le Pen yang menyebut bahwa burkini adalah ancaman terhadap sekularisme Prancis. Pernyataaan Le Pen itu langsung dibantah oleh Macron. Dia menyatakan burkini tak lebih dari sekadar tata krama berbusana di ruang publik.

Selain itu, dalam debat tersebut Le Pen melemparkan pernyataan bahwa Prancis sebaiknya menentang multikulturalisme.

Pernyataan pesaingnya itu langsung digunakan oleh Macron sebagai senjata untuk menyerang Le Pen. Dalam topik itu, Macron menuduh pesaingnya itu berusaga memusuhi umat Islam yanga ada di Negeri Ayam Jantan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perancis

Sumber : Reuters

Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top