Trump Bicara Soal Kekuatan Dolar & Suku Bunga

Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa pemerintahannya tidak akan memberi label China sebagai manipulator mata uang, bahkan saat ia mengatakan dolar AS menjadi "terlalu kuat" dan akan merugikan perekonomian
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 13 April 2017  |  08:52 WIB
Trump Bicara Soal Kekuatan Dolar & Suku Bunga
Presiden AS Donald Trump. - .Reuters

Bisnis.com, JAKARTA– Presiden Amerika Serikat Donald Trump menilai dolar AS terlalu kuat, sehingga bisa merugikan perekonomian.

Dalam wawancara dengan The Wall Street Journal, Trump juga mengatakan ingin melihat suku bunga AS tetap rendah. Komentar ini bertentangan dengan apa yang ia sering katakana selama kampanye pemilu, seperti dikutip Reuters, Kamis (13/4/2017).

Dolar AS jatuh setelah komentar Trump tersebut, sedangkan imbal hasil obligasi AS melemah menyusul komentar terhadap suku bunga acuan. Adapun Wall Street melemah.

Komentar Trump terhadap suku bunga ini berlawanan dengan praktik dari pemerintahan sebelumnya yang menahan diri mengomentari kebijakan yang ditetapkan oleh Federal Reserve.

Secara terpisah, pada konferensi pers bersama dengan Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg, Trump mengatakan AS siap untuk mengatasi krisis Korea Utara dan sekitarnya, bahkan tanpa bantuan China jika perlu.

BURSA AS MELEMAH

 

Bursa saham Amerika Serikat ditutup melemah pada perdagangan Rabu (12/4/2017), tertekan oleh kekhawatiran geopolitik dan komentar Presiden Donald Trump pada dolar AS dan suku bunga.

Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup turun 59,44 poin atau 0,29% ke 20.591,86, sedangkan indeks Standard & Poor’s 500 melemah 8,85 poin atau 0,38% ke 2.344,93.

Kemarin, Trump mengatakan dalam sebuah wawancara Wall Street Journal bahwa dolar terlalu kuat, meskipun ia juga mengatakan ia ingin melihat suku bunga tetap rendah.

Dolar AS, yang telah meningkat bersamaan dengan prospek kenaikan suku bunga acuan, membebani keuntungan perusahaan multinasional AS saat menguat.

"Pasar tidak suka ketidakpastian," kata Peter Tuz, Presiden Chase Investment Counsel, seperti dikutip Reuters.

Investor mencari perlindungan di saham-saham defensif dan aset berisiko rendah lainnya. Adapun sektor sektor industri dan bahan baku menjadi salah satu pendorong terbesar di pasar bersamaan dengan sektor finansial, sedangkan utilitas, bahan polok dan telekomunikasi menguat.

Meningkatnya ketegangan AS dengan Rusia, Korea Utara dan Suriah setelah serangan rudal di luar AS di Suriah pekan lalu dan mendekatnya kapal perang AS ke Semenanjung Korea telah membuat investor berhati-hati.

Investor khawatir perkembangan ini dapat mengalihkan perhatian Trump dari mengejar kebijakan pro-bisnis seperti pemotongan pajak, deregulasi dan peningkatan belanja infrastruktur.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Donald Trump

Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup