AS Akan Reformasi Perjanjian Dagang Dengan Korsel

Pemerintah AS berencana untuk meninjau dan mereformasi ulang perjanjian perdagangan bebas lima tahunan dengan Korea Selatan. Pasalnya, perjanjian itu telah membuat defisit perdagangan AS dengan Korsel meningkat pesat.
Yustinus Andri DP | 18 April 2017 10:50 WIB
Wakil Presiden AS Mike Pence - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA—Pemerintah AS berencana untuk meninjau dan mereformasi ulang perjanjian perdagangan bebas lima tahunan dengan Korea Selatan. Pasalnya, perjanjian itu telah membuat defisit perdagangan AS dengan Korsel meningkat pesat.

Wakil Presiden AS Mike Pence mengatakan hal tersebut kepada para pemimpin bisnis di Seoul dalam rangkaian kunjungannya di Negeri Ginseng tersebut. Dia mengatakan, pascaperjanjian dagang bebas kedua negara tersebut diberlakukan lima tahun lalu, defisit dagang AS kepada Korsel melejit hingga dua kali lipat.

“Ini fakta yang sulit bagi kami [AS]. Tetapi kami harus jujur bahwa hubungan perdagangan kita tidak terlalu mendatangkan keuntungan yang sama bagi kedua negara,” kata Pence, seperti dikutip dari Reuters, Selasa (18/4/2017).

Wakil dari Presiden Donald Trump tersebut menilai, hambatan berbisnis di Korea Selatan terlalu tinggi. Hal itu membuat ekpansi pebisnis dari AS di Korsel terbatas. Sebaliknya, pengusaha Korsel justru mendapat manfaat yang lebih besar ketika berbisnis di AS.

Untuk itu, dia menjanjikan AS akan menawarkan reformasi kerjasama dagan bebas baru yang menguntungkan kedua negara.

Seperti diketahui, Negeri Paman Sam di bawah kendali Trump terus berusaha melakukan peninjauan ulang dan revisi kerjasama dagang dengan sejumlah mitra dagang utama yang menyebabkan AS mengalami defisit perdagangan.

Bulan lalu, Trump bahkan telah memerintahkan Menteri Perdagangan AS Wilbur Ross untuk melakukan kajian mendalam terkait mitra dagang yang mengalami surplus dengan AS. Hal itu dinilai sejumlah kalangan sebagai bentuk realisasi janjinya selama masa kampanye.

Seperti diketahui, Korea Selatan menjadi salah satu negara yang akan menjadi fokus kajian Ross. Negara lainnya adalah China, Jepang, Kanada, Indonesia, Malaysia, India, Thailand, Prancis, Jerman, Meksiko, Irlandia, Vietnam, Italia dan Swiss.

Adapun, berdasarkan data Kementerian Perdagangan AS, sebelum perjanjian perdagangan bebas antara kedua negara mulai berlaku pada 2012, surplus perdagangan Korea Selatan terhadap AS telah mencapai US$11,6 miliar pada akhir 2011. Namun pada 2016, surplus dagang itu melesat menjadi US$23,2 miliar.

James Kim, CEO General Motors Korea, menyambut baik rencana Pence tersebut. Menurutnya, masih ada peluang untuk meningkatkan kesepakatan perdagangan bebas yang saling menguntungkan antara Washington dan Seoul.

“Kita perlu menyederhanakan kembali aturan bisnis di Korea Selatan. Supaya kita memperoleh kemudahan dalam menjual produk perusahaan Korea Selatan di AS,” kata Kim.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekonomi as, perdagangan as

Sumber : Reuters

Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top