IMF: Pulihnya Harga Komoditas Topang Pertumbuhan Ekonomi Negara Berkembang

Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi untuk kawasan negara berkembang masih cukup kuat pada 2017-2018.
Yustinus Andri DP
Yustinus Andri DP - Bisnis.com 19 April 2017  |  10:00 WIB
IMF: Pulihnya Harga Komoditas Topang Pertumbuhan Ekonomi Negara Berkembang
Gedung perkantoran terlihat dari ketingian di Jakarta, Senin (13/3). - JIBI/Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA - Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi untuk kawasan negara berkembang masih cukup kuat pada 2017-2018.

Dalam keterangan resminya yang dikutip Rabu (19/4/2017), IMF memproyeksikan, pada 2017 kawasan tersebut akan tumbuh 4,5% atau naik dari tahun sebelumnya yang mencapai 4,1%. Selanjutnya pada 2018, PDB kawasan ini akan kembali tumbuh hingga 4,8%.

Kebangkitan di sejumlah raksasa negara berkembang seperti Rusia dan Brazil menjadi pendorong utama kebangkitan negara berkembang. Pulihnya harga komoditas diperkirakan menjadi penopang pulihnya perekonomian kedua negara itu.

Adapun, kelompok Asean 5 yang terdiri dari Thailand, Malaysia, Filipina, Vietnam dan Indonesia diperkirakan akan tetap mengalami pertumbuhan yang cenderung moderat.

Pada tahun ini kawasan tersebut akan mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar 5,0% atau naik dari 2016 sebesar 4,9%. Sedangkan untuk 2018 pertumbuhan ekonomi akan menembus 5,2%. Derasnya arus investasi dan pulihnya harga komoditas menjadi salah satu alasan kuat mengapa kawasan ini kembali melanjutkan pertumbuhan ekonominya.

“Namun demikian, ancaman pada ekonomi dunia masih cukup besar. Kombinasi dari cuaca buruk, kerusuhan sipil dan kelaparan massal akan menggangu pertumbuhan ekonomi di sejumlah kawasan,” lanjutnya.

Adapun ancaman bagi negara berkembang, menurut Obstfeld, akan muncul dari proses normalisasi moneter Bank Sentral AS. Pelarian arus modal keluar dalam bentuk dolar AS akan terus terjadi seiring kenaikan bertahap pada suku bunga The Fed.

Selain itu momentum baik ini berpeluang gagal berlanjut apabila AS melakukan proteksi perdagangan. Di sisi lain, ancaman juga akan datang jika proses reorientasi ekonomi China dari berbasis industri ke jasa dan konsumsi gagal berjalan dengan mulus.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekonomi global, Pertumbuhan Ekonomi, negara berkembang

Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup