Li Keqiang: China & Uni Eropa Harus Kedepankan Perdagangan Bebas yang Adil

"China dan Uni Eropa, sebagai dua kekuatan besar di dunia, harus menjawab tantangan global, reformasi dan memperbaiki sistem tata kelola internasional, mempromosikan sinyal positif dari globalisasi ekonomi dan perdagangan bebas yang adil," kata Li, menurut pernyataan di situs Kementerian Luar Negeri China, Rabu (19/4/2017), seperti dilansir Reuters.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 19 April 2017  |  12:11 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – China dan Uni Eropa harus mempromosikan sinyal positif dari globalisasi ekonomi dan perdagangan bebas, ujar Perdana Menteri China Li Keqiang kepada Diplomat Uni Eropa Federica Mogherini.

"China dan Uni Eropa, sebagai dua kekuatan besar di dunia, harus menjawab tantangan global, reformasi dan memperbaiki sistem tata kelola internasional, mempromosikan sinyal positif dari globalisasi ekonomi dan perdagangan bebas yang adil," kata Li, menurut pernyataan di situs Kementerian Luar Negeri China, Rabu (19/4/2017), seperti dilansir Reuters.

Li juga menambahkan, kedua belah pihak harus menanggapi perubahan dan ketidakpastian dalam situasi internasional dengan kerjasama dan stabilitas hubungan China-Uni Eropa.

Beberapa diplomat Eropa, yang mengunjungi China dalam rangka dialog strategis Uni Eropa – China, mengatakan bahwa China telah meluncurkan pesona yang ofensif dengan Uni Eropa sejak Presiden AS Donald Trump menjabat, dalam upaya untuk mencari sekutu di tengah kekhawatiran Trump dapat merusak ekonomi grobal dengan kebijakan proteksionisnya.

Sementara itu, komisaris iklim Eropa mengatakan bulan lalu bahwa China dan Uni Eropa tidak dapat mengharapkan gaya kepemimpinan yang sama dari pemerintahan Trump, setelah presiden AS tersebut membatalkan peraturan perubahan iklim yang disahkan pendahulunya, Barack Obama.

Namun Uni Eropa tetap berhati-hati terhadap arah mitra dagang terbesar kedua nya menyusul ekspor baja China dalam jumlah besar, militerisasi atas pulau-pulau di Laut Cina Selatan dan, pergerakan ke arah otoritarianisme di bawah Presiden Xi Jinping.

Xi telah berusaha bertahan dari globalisasi dan membuat China digambarkan sebagai negara yang terbuka lebar untuk masalah ekonomi.

Namun, pelaku bisnis asing mengeluh bahwa China mendiskriminasikan mereka dengan kebijakan yang membatasi akses mereka ke pasar negara tersebut dan mendukung pengusahan domestik.

Saat ini, Uni Eropa sedang mencari perjanjian investasi bilateral dengan negeri tirai bamboo tersebut agar dapat memudahkan perusahaan-perusahaan Eropa untuk melakukan bisnis di China.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
uni eropa, china, perdagangan bebas

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup