Bauran Fiskal Dan Moneter Jadi Sentimen Positif PDB Indonesia

Bauran antara kebijakan fiskal dan moneter yang tepat, serta berkah dari kenaikan harga komoditas, menurut Dana Moneter Internasional (IMF) menjadi dasar yang kuat bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia selama 2017-2018.
Yustinus Andri DP | 19 April 2017 16:19 WIB

Bisnis.com, JAKARTA— Bauran antara kebijakan fiskal dan moneter yang tepat, serta berkah dari kenaikan harga komoditas, menurut Dana Moneter Internasional (IMF) menjadi dasar yang kuat bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia selama 2017-2018.

Seperti diketahui, dalam laporan World Economic Outlok (WEO) April 2017, IMF memproyeksikan produk domestik bruto (PDB) pada 2017 akan tumbuh 5,1% dan 5,3% pada 2018.

Menurut lembaga keuangan internasional tersebut, Indonesia dalam hal ini memperoleh keuntungan dari kebijakan reformasi perpajakan berupa Tax Amnesty yang dimulai pada tahun lalu.

Sementara itu, kebijakan pencabutan subsidi harga BBM pada 2015 lalu, membuat ruang fiskal bagi Tanah Air menjadi semakin lebar. Konsumsi domestik pun diperkirakan akan tumbuh meyakinkan hingga tahun depan

“Selain itu belanja sosial dan modal dalam jangka menengah, rupanya berhasil sejalan dengan ruang fiskal yang tersedia,” tulis IMF dalam laporannya, Rabu (19/4/2017).

Di sisi lain, sokongan positif juga datang dari sisi moneter. Bank Indonesia, menurut IMF, mampu menjalankan kebijakan moneter yang sejalan dengan kontrol atas laju inflasi yang telah ditetapkan.

Adapun, dukungan dari sisi harga komoditas muncul dari produk kelapa sawit. Indonesia bersama dengan Malaysia sepanjang tahun lalu telah menikmati kenaikan harga minyak sawit yang mencapai 36,7%. Dampak positif itu setidaknya masih dapat dinikmati pada tahun ini, setelah IMF memprediksi, harga produk komoditas tersebut akan naik 19% pada tahun ini.

Seperti diketahui, Indonesia yang tergabung dalam kelompok Asean-5 versi Dana Moneter Internasional (IMF), diproyeksikan akan mengalami pertumbuhan ekonomi tertingi ketiga di bawah Filipina dan Vietnam.

Adapun, Filipina diproyeksikan tumbuh 6,8% dan Vietnam dengan 6,5% pada 2017. Sementara itu, pada periode yang sama di bawah Indonesia terdapat Malaysia dengan 4,5% dan Thailand 3,0%.

“Kelompok negara ini mendapatkan dorongan secara jangka pendek dari permintaan domestiknya yang kuat. Khusus untuk Filipina, belanja publik yang lebih tinggi dari tahun-tahun sebelumnya, mampu membuat PDB negara ini melejit,” lanjut IMF dalam laporannya.

Tag : Pertumbuhan Ekonomi, pdb indonesia
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top