Ekspor Jepang Meningkat Pada Maret

Ekspor Jepang kembali naik pada Maret. Kenaikan tersebut menjadi laju tercepat selama lebih dari dua tahun terakhir.
Yustinus Andri DP | 20 April 2017 11:30 WIB
Seorang pekerja berjalan di areal pabrik yang berada di zona industri Keihin, Kawasaki, Jepang (8/3/2017). - .Reuters/Toru Hanai

Bisnis.com, TOKYO— Ekspor Jepang kembali naik pada Maret. Kenaikan tersebut menjadi laju tercepat selama lebih dari dua tahun terakhir.

Pemerintah Jepang mengumumkan, ekspor bulan lalu naik 12,0% secara year on year (yoy). Meningkatnya permintaan luar negeri pada produk suku cadang mobildan baja menjadi pendorong terkuat kenaikan ekspor tersebut.

Capaian pada bulan lalu itu berada di atas estimasi median para ekonom yang disurvei oleh Reuters sebelumnya, yakni 6,7%. Kondisi ini otomatis akan menjadi sentimen positif bagi perekonomian Negeri Sakura yang masih dilanda stagnansi berkepanjangan.

“Ekspor terlihat cukup bagus, dan kami berharap kontribusi perdagangan internasional tahun ini dapat menyokong pertumbuhan ekonomi Jepang,” kata ekonom senior di Mizuho Research Institue Hidenobu Tokuda, seperti dikutipd dari Reuters, Kamis (20/4/2017).

Adapun data ekspor-impor terbaru tersebut menunjukkan bahwa surplus dagang Jepang terhadap Amerika Serikat telah menyempit. Meskipun demikian Tokuda meyakini, menyusutnya surplus dagang itu akan meredakan kekhawatiran akan kebijakan perdagangan Washington kepada Tokyo.

Tokuda pun meyakini, ekspor Jepang akan terus meningkat seiring munculnya momentum positif pada perekonomian global terutama sektor perdagangan. Kini, menurutnya, ancaman terbesar dan paling nyata bagi Jepang adalah apabila Presiden AS Donald Trump merealisasikan kebijakan proteksi perdagangan,

"Satu kekhawatiran kami adalah Trump bisa mulai mengambil sikap yang ketat dalam hal perdagangan dengan China, dan bukan tak mungkin Jepang juga akan ikut terpapar," lanjutnya.

Sementara itu, dari sisi volume ekspor Jepang naik 6,6% pada bulan lalu secara yoy. Ekspor ke AS naik 3,5% karena meningkatnya pengiriman suku cadang mobil. Namun, kenaikan itu juga diimbangin oleh melonjaknya impor Jepang dari AS pada produk gas alam dan biji-bijian. Alhasil, surplus perdagangan Jepang kepada AS turun 8,1% secara yoy pada Maret.

Di sisi lain, ekspor Jepang ke China naik 16,4% pada periode yang sama. Perolehan tersebut melanjutkan tren positif pada Februari yang juga mencatatkan kenaikan 28,2% akibat perayaaan Tahun Baru Imlek di Negeri Panda.

Secara keseluruhan, ekspor Jepang ke Asia naik 16,3% secara yoy pada Maret setelah meningkat 21,0% pada bulan sebelumnya.

Peningkatan ekspor bulan lalu tersebut, diimbangi pula oleh melonjaknya impor Jepang pada periode yang sama. Impor tercatat naik 15,8% secara yoy. Kenaikan itu menjadi yang terbesar sejak Maret 2014, karena harga minyak yang lebih tinggi sehingga mendorong nilai impor energi.

Neraca perdagangan secara keseluruhan mencatatkan surplus 614,7 miliar yen. Jumlah itu lebih tinggi dari prediksi para ekonom yang menyebutkan surplus perdagangan akan mencapai 575,8 miliar yen.

Adapun, aktivitas perdagangan Jepang ini berpotensi mengalami perubahan yang siginifikan di masa depan. Pasalnya,

Wakil Presiden AS Mike Pence dalam kunjungannya ke Jepang pada Selasa (18/4) lalu telah mendesak Tokyo untuk mempercepat pembicaran mengenai pembukaan pasar yang lebih luas bagi produk AS di Jepang.

Pertemuan lanjutan terkait topik itu dijadwalkan akan dilakukan pada akhir tahun ini. Dalam hal ini, kerjasama baru terssebut berpeluang membuat AS melakukan ekspor yang lebih banyak ke Jepang.

Sumber : Reuters

Tag : ekonomi jepang
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top