Ini Dampak Over Regulasi Bagi Investasi

Investasi ternyata menuntut regulasi yang memudahkan bisnis, bukan sebaliknya. Bahkan, kelonggaran regulasi dinilai perlu dilakukan untuk meningkatkan investasi di Indonesia.
Dewi Aminatuz Zuhriyah
Dewi Aminatuz Zuhriyah - Bisnis.com 21 April 2017  |  17:43 WIB
Ini Dampak Over Regulasi Bagi Investasi
Kepala BKPM Thomas Trikasih Lembong saat menjaba Menteri Perdagangan. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA—Investasi ternyata menuntut regulasi yang memudahkan bisnis, bukan sebaliknya. Bahkan, kelonggaran regulasi dinilai perlu dilakukan untuk meningkatkan investasi di Indonesia.

Badan Koordinasi Penanaman Modal menyatakan selama ini Indonesia terlalu ‘ribet’ dalam regulasi perizinan.

“Ya seperti Pak Presiden bilang, kita terlalu banyak aturan dan regulasi perizinan, terlalu banyak barrier dalam perdagangan,” ujar Kepala BKPM Thomas Lembong di hotel Shangri La, Jumat (21/4/2017).

Oleh karena itu, untuk meningkatkan investasi di Indonesia, pemerintah perlu melakukan penyederhanaan regulasi dan terbuka namun tetap kompetitif.

“Kita harus turunkan barrier bukan hanya untuk perusahaan AS tetapi juga untuk semua,” imbuh Lembong.

Menurut dia, selain menghambat investasi negara asing di Indonesia, banyaknya batasan atau barrier juga berdampak buruk bagi industri lokal.

Pasalnya, hal tersebut akan menyulitkan industri lokal dalam melakukan impor untuk produksi.

“Industri lokal juga perlu impor komponen dan bahan baku,” tuturnya.

Dengan begitu, lanjutnya, industri lokal mampu untuk bersaing di pasal global dengan standar internasional.

Sementara itu, sehubungan dengan kunjungan Wakil Presiden AS Mike Pence, Lembong menyarakan agar Pemerintah Indonesia mulai memindahkan fokus investasi AS.

Selama ini, investasi AS di Indonesia memang cukup besar, bahkan pada 2012 hingga 2016 kemarin, Negeri Paman Sam itu berada di peringkat kelima investor terbesar di tanah air.

“Sayangnya, 90% dari investasi itu di bidang migas dan pertambangan,” tuturnya.

Oleh karena itu, akan lebih baik jika Pemerintah mengalihkan investasi dari sektor migas dan pertambangan ke sektor lainnya.

Menurutnya, masih banyak sektor yang menjadi peluang baik bagi AS adalah sektor digital, teknologi, manufaktur, sektor jasa seperti aerospace, industri pesawat, industri otomotif, dan industri alat infrastruktur.

Sebagai contoh, kedatangan Wapres AS ke Indonesia kali ini membawa investasi dan kerja sama dari perusahaan konsorsium AS.

Perusahaan tersebut menjalin kerja sama dengan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN).

“Sekarang ada kerja sama antara konsorsium perusahaan AS dengan PLN membuat meteran listrik digital. Nanti ini terhubung ke komputer dengan jaringan 3G atau 4G,” katanya.

Teknologi AS saat ini tidak hanya merambah handphone atau komputer. Digitalisasi sudah masuk ke industri seperti kelistrikan.

“Dengan jaringan ini PLN bisa memantau konsumsi listrik rumah tangga,” tutupnya.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
investasi, bkpm

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top