Ini Cara ADB Penuhi Pembiayaan Infrastruktur Asia-Pasifik Sebesar US$1,7 Triliun

Bank Pembangunan Asia (ADB) telah meningkatkan operasi dan memperluas kapasitas pendanaannya untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan infrastruktur di Asia-Pasifik.
Yustinus Andri DP | 25 April 2017 13:27 WIB
Logo Asian Development Bank (ADB). - Bloomberg/Nana Buxani

Bisnis.com, JAKARTA— Bank Pembangunan Asia (ADB) telah meningkatkan operasi dan memperluas kapasitas pendanaannya untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan infrastruktur di Asia-Pasifik.

Dalam Annual Report 2016 yang dirilis pada Selasa (25/4/2017), ADB memperkirakan kawasan Asia-Pasifik membutuhkan setidaknya US$1,7 trliliun per tahun untuk memenuhi kebutuhan pembangunan tersebut.

Adapun peningkatan operasi dan perluas kapasitas pendanaan dilakukan melalui penggabungan operasi pinjaman Asian Development Fund (ADF) dengan neraca Ordinary Capital Resources (OCR), yang mulai berlaku pada 1 Januari tahun ini.

Ekuitas OCR hampir tiga kali lipat, dari US$17,3 miliar menjadi US$48,1 miliar pada tahun lalu. Kenaikan itu didorong oleh pinjaman ADF US$30,8 miliar dan aset lainnya yang dipindahkan dari ADF.

Penggabungan tersebut diharapkan dapat meningkatkan pinjaman tahunan ADB dan memberikan persetujuan lebih dari 50% sampai lebih dari US$20 miliar pada 2020.

Sebelumnya, ADB menyatakan akan melanjutkan penyaluran pinjaman senilai US$2 miliar per tahun hingga 2019 kepada Indonesia.

Pinjaman itu diharapkan mampu membantu menipiskan gap pembiayaan sektor infrastruktur Indonesia yang diperkirakan mencapai US$47 miliar atau 4,7% terhadap produk domestik bruto (PDB) per tahun hingga 2020. Adapun jika dihitung dengan perhitungan biaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim gap tersebut menembus angka US$51 miliar.

“Kami telah siapkan pembiayaan hingga US$2 miliar per tahun sejak 2015 hingga 2019. Pendanaan ini kami harapkan mampu membantu pengembangan proyek infrasturktur di sektor energi, urban development, irigasi dan manajemen pengairan,” kata Sona Shrestha, Deputy Country Director ADB beberapa waktu lalu.

Terkait pencairan pinjaman untuk tahun ini, Sona menargetkan akan dilakukan setelah adanya persetujuan pelaksanaan proyek yang rencananya dilakukan paling lambat pada Mei 2017.

Adapun, berdasarkan laporan ADB, persentase gap kebutuhan pembiaayaan infrastruktur Indonesia berada di atas rata-rata negara Asia Tenggara. Pasalnya gap kebutuhan pembiayaan infrasturktur negara Asia Tenggara mencapai US$92 miliar atau 3,8% terhadap PDB rata-rata kawasan itu.

Sementara itu, kebutuhan pembiayaan infrastruktur di Indonesia per tahun dari 2016-2020 diperkirakan mencapai US$70 miliar per tahun atau US$74 miliar per tahun jika menyertakan perhitungan mitigasi perubahan iklim.

Tag : adb, asian development bank
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top