Optimalisasi Likuiditas, BPD Andalkan PUAB dan Instrumen BI

Bank pembangunan daerah berupaya mengoptimalkan dana menganggur yang menumpuk pada awal tahun ini dengan penempatan dana seperti dalam pasar uang antar bank dan instrumen Bank Indonesia.
Surya Rianto
Surya Rianto - Bisnis.com 25 April 2017  |  12:32 WIB
Optimalisasi Likuiditas, BPD Andalkan PUAB dan Instrumen BI
Ilustrasi - asbanda.com

Bisnis.com, JAKARTA – Bank pembangunan daerah berupaya mengoptimalkan dana menganggur yang menumpuk pada awal tahun ini dengan penempatan dana seperti dalam pasar uang antar bank dan instrumen Bank Indonesia.

Dana menganggur pada bank pembangunan daerah (BPD) tampak meningkat pada awal tahun, dari data Otoritas Jasa Keuangan sampai Februari 2017, pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) BPD mencatatkan kenaikan sebesar 12,67% menjadi Rp432,14 triliun dibandingkan dengan akhir tahun lalu.

Di sisi lain, pertumbuhan kredit masih mengalami penurunan sebesar 1,55% menjadi Rp352,3 triliun dibandingkan dengan akhir tahun lalu.

Dengan begitu, posisi loan to deposit ratio (LDR) BPD pun berada pada posisi 81,3% dibandingkan akhir tahun lalu yang berada pada 93,65%.

Sekjen Asosiasi Bank Daerah (Asbanda) Edie Rizliyanto mengatakan, pada awal tahun memang likuiditas semua BPD cenderung longgar.

“Biasanya, pada awal tahun, BPD cenderung menempatkan dananya pada PUAB [pasar uang antar bank] dan instrumen BI [Bank Indonesia] untuk mengoptimalkan likuiditas,” ujarnya kepada Bisnis pada Jumat (21/4).

Edie yang juga menjabat sebagai Direktur Utama PT BPD Sumatra Utara menyebutkan, untuk perseroan pada awal tahun ini mayoritas menempatkan dana menganggur pada PUAB yang memiliki tenor jangka pendek.

“Kalau instrumen BI lebih untuk memenuhi rasio likuiditas,” sebutnya.

Sementara itu, PT BPD Jawa Timur Tbk. juga mengakui kondisi likuiditas perseroan saat ini cukup longgar. Sampai akhir kuartal I/2017, posisi LDR bank dengan kode emiten BJTM itu sebesar 70,62%.

Direktur BPD Jawa Timur Su’udi mengatakan, perseroan masih memiliki dana menganggur cukup besar saat ini. Dengan dana yang berlebih itu, perseroan pun meminjamkannya kepada BPD maupun bank lainnya yang membutuhkan.

“Hal itu dilakukan agar dana menganggur itu bisa tetap menghasilkan,” ujarya.

Dia melanjutkan, pada awal tahun memang likuiditas kerap longgar karena dana pemerintah daerah banyak yang belum ditarik. Akhirnya, dioperasionalkan ke kredit, dengan pertumbuhan pinjaman yang belum menggeliat, dana itu pun dipinjamnkan kepada bank lain dengan jumlah terbatas.

“Kami tetap batasi jumlah pinjaman kepada bank lain, agar kami bisa tetap prudent,” lanjutnya.

Su’udi menyebutkan, perseroan menargetkan pada semester II/2017, LDR perseroan bisa naik ke sekitar 90% agar dana yang terhimpun bisa dioptimalkan lewat penyaluran kredit.

Dari data OJK sampai Februari 2017, penempatan dana ke surat berharga oleh BPD mengalami kenaikan sebesar 14,45% menjadi Rp47,57 triliun dibandingkan dengan Februari 2016.

Penempatan pada Sertifikat Bank Indonesia (SBI) mencatatkan pertumbuhan tertinggi sebesar 59,47% menjadi Rp12,01 triliun, sedangkan surat pembendaharaan negara dan obligasi masing-masing mencatatkan penurunan sebesar 53,77% dan 7,65%.

Sisanya, instrumen lainnya mencatatkan kenaikan sebesar 51,49% menjadi Rp11,75 triliun dibandingkan dengan periode sama pada tahun lalu.

Untuk penempatan pada bank lain, BPD mencatatkan kenaikan sebesar 3,1% menjadi  Rp39,68 triliun dibandingkan dengan periode sama pada tahun lalu. Penempatan pada instrumen giro mengalami kenaikan yang terbesar dibandingkan dengan instrumen lainnya yakni sebesar 37,43% menjadi Rp2,39 triliun.

Instrumen interbank call money juga naik sebesar 10,97% menjadi Rp11,12 triliun, sedangkan instrumen deposito berjangka turun sebesar 3,44% menjadi Rp24,6 triliun.

Untuk penyaluran kredit kepada bank lain, kelompok BPD mencatatkan kenaikan sebesar 46,21% menjadi Rp1,46 triliun dibandingkan dengan periode sama pada tahun lalu.

Adapun, rata-rata transaksi harian PUAB secara keseluruhan industri perbankan sampai Februari 2017 berada pada posisi Rp11,52 triliun per hari. Rata-rata transaksi itu melewati level tertinggi sejak Oktober 2016 yang senilai Rp10,73 triliun per hari.

Mayoritas transaksi masih berada pada tenor overnightsenilai Rp7,81 triliun, disusul tenor satu pekan senilai Rp2,17 triliun, dan tenor satu bulan senilai Rp188 miliar.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bpd

Editor : Hendri Tri Widi Asworo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top