BRI Bidik Pendapatan Komisi Rp12,5 Triliun

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. membidik pertumbuhan pendapatan berbasis komisi sebanyak 35,8% dari realisasi sepanjang tahun lalu yang berjumlah Rp9,2 triliun.
Ropesta Sitorus
Ropesta Sitorus - Bisnis.com 26 April 2017  |  16:01 WIB
BRI Bidik Pendapatan Komisi Rp12,5 Triliun
Gedung Bank Rakyat Indonesia - Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. membidik pertumbuhan pendapatan berbasis komisi sebanyak 35,8% dari realisasi sepanjang tahun lalu yang berjumlah Rp9,2 triliun.

Direktur Konsumer BRI Sis Apik Wijayanto mengatakan pihaknya optimistis hingga akhir tahun dapat membukukan kenaikan fee based income (FBI) sebesar Rp12,5 triliun.

Target tersebut akan diupayakan dengan memaksimalkan setiap sektor yang potensial, mulai dari pendapatan jasa bank, pendapatan jasa transfer, pendapatan biaya administrasi kartu, administrasi trade finance, serta dari bancassurance.

“Target FBI untuk 2017 BRI harus mencapai sebesar Rp12,5 triliun, salah satunya akan diupayakan dari bancassurance dengan target Rp213 miliar,” katanya di Jakarta, Selasa (25/4/2017).

Berdasarkan laporan kinerja perseroan, selama kuartal I /2017 jumlah fee based income BRI mencapai Rp2,5 triliun, atau tumbuh 29,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Jumlah FBI tersebut memberikan kontribusi sebesar 9,2% dari pendapatan perseroan secara keseluruhan.

Adapun, penyumbang FBI yang tertinggi dalam tiga bulan pertama ini adalah biaya administrasi deposito, fee dari aktivitas e-banking, fee dari administrasi kredit, fee dari kegiatan bisnis internsional, serta fee dari kartu kredit. Komisi dari administrasi kredit tumbuh 230,9% dan memberikan porsi sebesar 21% atau senilai Rp537 miliar.

Khusus untuk pendapatan komisi dari produk bancassurance hingga Maret lalu jumlahnya telah mencapai Rp50 miliar. Adapun, realisasinya pada tahun 2016 berjumlah Rp156 miliar.

Sis Apik menjelaskan, pendapatan berbasis komisi memang tidak terlalu tinggi dari tiap produk atau jasa. Misalnya untuk jasa transfer antarbank nilainya berkisar Rp4.000 – Rp6.500. Oleh karena itu perseroan harus memacu volume transaksi produk dan jasa guna meningkatkan pendapatan.

Lewat optimalisasi sinergi BRI Life, BRI menargetkan peningkatan jumlah nasabah bancassurance  menjadi 1 juta orang dari jumlah saat ini yang berkisar 237.000 orang dengan nilai Rp4,2 triliun.  BRI life adalah salah satu anak usaha BRI yang diakuisisi pada akhir tahun 2015 lalu.

Dia menuturkan, ada tiga alasan utama yang membuat BRI gencar melakukan solialisasi produk bancassurance. Pertama, faktor latar belakang perkembangan industri jasa keuangan dengan mengusung berbagai macam poduk, salah satunya bancassurance. 

Kedua, Sis Apik menilai minat masyarakat untuk berinvestasi sudah mulai tinggi, tidak hanya terbatas dalam produk-produk perbankan saja, melainkan juga dalam produk investasi asuransi. Ketiga, strategi tersebut merupakan solusi untuk mengatasi margin dan pendapatan bunga yang semakin lama akan berpotensi semakin menurun.

“Dengan mengadakan kegiatan seperti seminar untuk meningkatkan bancassurance, kami bisa meningkatkan portfolio perusahaan asuransi BRI Life sekaligus mendapatkan FBI.”

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan pada Februari lalu, pendapatan operasional dari dividen, keuntungan penyertaan equity, serta komisi/provisi/fee bank umum konvensional mencapai Rp10,3 triliun atau tumbuh dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang berjumlah Rp8,91 triliun (yoy)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perbankan

Editor : Hendri Tri Widi Asworo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top