EKONOMI DAERAH: Kota Industri Bisa Jadi Solusi Pemerataan

Pengembangan kota industri di Indonesia dinilai dapat menjadi solusi bagi pemerataan ekonomi daerah apabila industri skala besar dapat bersinergi dengan industri lokal.
Yusuf Waluyo Jati
Yusuf Waluyo Jati - Bisnis.com 27 April 2017  |  17:52 WIB
EKONOMI DAERAH: Kota Industri Bisa Jadi Solusi Pemerataan
Aktivitas karyawan di pabrik karoseri truk di kawasan industri Bukit Indah City, Purwakarta, Jawa Barat. - Ilustrasi/JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA - Pengembangan kota industri di Indonesia dinilai dapat menjadi solusi bagi pemerataan ekonomi daerah apabila industri skala besar dapat bersinergi dengan industri lokal.

Pengamat Tata Kota Yayat Supriatna mengatakan kota industri merupakan sebuah wilayah terintegrasi yang menggabungkan kawasan industri, hunian, dan komersial dengan konsentrasi kegiatan penduduk yang tinggi.

Seluruh aktivitas ini, ujarnya, mampu menciptakan efek pengganda (multiplier effect) dan pengaruh pengumpulan kekuatan (polarisasi) lokal yang sangat besar.

“Kota industri itu basisnya masyarakat ekonomi kreatif yang mendapatkan fasilitas guna mendukung pertumbuhan sehingga dapat bekerja sama dengan industri skala besar,” kata Yayat, dalam keterangan pers, Kamis (27/4/2017).

Sektor usaha di kota Industri, menurut Yayat, diharapkan menghasilkan produk yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat di kota tersebut serta meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat secara merata.

Caranya, melalui pemanfaatan sumber daya manusia (SDM) dan sumber daya alam (SDA) dengan memperhatikan keseimbangan dan kelestarian lingkungan hidup. Kota industri memiliki sifat sharing economy dengan daerah terkait sehingga manfaatnya terasa bagi daerah itu sendiri melalui peningkatan produk domestik regional bruto (PDRB).

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, PDB Indonesia Atas Dasar Harga Konstan pada2016 mencapai Rp9.433 triliun, tumbuh 5,02% dibandingkan dengan 2015 sebesar Rp8.982,5 triliun.

Sayangnya, secara penyebaran wilayah (spasial) struktur ekonomi Indonesia didominasi Pulau Jawa dengan kontribusi 58,49%, disusul Sumatra 22,03%, Kalimantan 7,85%, Sulawesi 6,04%, dan sisanya 5,59% pulau lain.

Di Jawa sendiri, distribusi pertumbuhan ekonomi juga belum merata. Akibatnya, pendapatan per kapita antarprovinsi masih belum sebanding.

Sebagai contoh, tiga provinsi yang berdekatan yaitu Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Pada2015, rata-rata pendapatan per kapita Jakarta mencapai Rp240,5 juta per tahun, jauh di atas Banten Rp40,02 juta dan Jawa Barat Rp32,65 juta.

PERLU SINERGI

Menurut Yayat, sinergi antara pembangunan kota industri, pelaku industri dan investor dengan produk, serta SDM dan pengusaha setempat diharapkan dapat membantu meningkatkan PDRB dan mengakselerasi pemerataan ekonomi.

Sebagai contoh, menurut Yayat, Kota Bekasi hampir sebagian besar adalah industri skala besar tetapi keuntungannya mengalir ke Jakarta. Guna mendorong perekonomian lokal, industri skala besar harus bersinergi dengan industri skala kecil.

Mulai saat ini, lanjutnya, pemerintah daerah harus bersiap diri sehingga pembangunan kota industri maupun industri yang pindah segera mendapatkan fasilitas pelayanan secara maksimal dan memadai. Pemerintah daerah juga dapat menjalin kemitraan dengan investor melalui sistem public private partnership (PPP).

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo disela-sela sambutannya pada saat meresmikan pabrik terbaru Mitsubishi Motors Krama Yudha Indonesia (MMKI), mengatakan para pelaku industri untuk tidak ragu dalam melibatkan SDM lokal.

“Jangan ragu melibatkan SDM lokal untuk menghasilkan inovasi terbaru," ujar Presiden Joko Widodo di kawasan industri GIIC, Cikarang, Kabupaten Bekasi, Selasa (25/4/2017).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perkotaan, ekonomi daerah, kota industri

Editor : Yusuf Waluyo Jati

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top