DANA PENSIUN LEMBAGA KEUANGAN : Menanti Generasi Sadar Pensiun

Menyiapkan dana pensiun merupakan upaya mencicil masa depan dengan biaya hari ini.
Anggara Pernando
Anggara Pernando - Bisnis.com 30 April 2017  |  15:39 WIB
DANA PENSIUN LEMBAGA KEUANGAN : Menanti Generasi Sadar Pensiun
Ilustrasi - Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA -- Menyiapkan dana pensiun merupakan upaya mencicil masa depan dengan biaya hari ini. Tengok saja mereka yang sudah melakukannya.

Wajah Nana, 30, sumringah. Laporan perkembangan dana pensiun lembaga keuangan (DPLK) 2016 yang ia terima tumbuh meyakinkan. Jauh di atas beban inflasi ataupun bunga deposito. Apalagi ia baru menyisihkan uang untuk ditempatkan di dana pensiun satu tahun terakhir.

Berbekal pemahaman akan sejarah bursa saham, Nana memperkirakan perkembangan dana yang bakal ia peroleh tumbuh signifikan dalam 20 tahun ke depan. Ia yakin bisa menghadapi masa pensiun dengan tenang.

"Saya taruh di saham kerena saya merasa sepadan antara risk dan yield-nya," kata Nana di Jakarta, Minggu (30/4/2017).

Untuk melindungi investasi masa tuanya itu, Nana juga sudah menyiapkan rencana. Pada tiga hingga lima tahun sebelum periode pensiun datang ia akan memindahkan portofolio DPLK penempatan saham ke jenis investasi pendapatan tetap.

Dengan pola ini ia berniat memperkecil risiko ketika hari tua menjemput.

Nana memperkirakan dana yang terkumpul akan mencukupi sebagian besar kebutuhan ketika ia pensiun nanti. Apalagi hasil pengembangan di DPLK ini juga masih ditambah dengan dana pensiun dari perusahaan.

Melakukan penempatan dana pensiun di instrument DPLK berbasis saham, menurut Nana, harus berfokus pada hasil akhir. Hampir setiap hari berita saham naik turun menghiasi media massa.

Dengan pola itu ketika pasar melakukan koreksi tajam ke bawah, ia cukup mengingat tujuan akhir. Pasalnya dana itu baru akan digunakan 25 tahun lagi. Ia berkeyakinan, gejolak pasar saham dalam jangka pendek bukan menjadi ukuran utama.

“Saya sih percaya history repeats it self ya,” katanya.

Berbeda dengan Nana, Damrus, 59, warga Kota Bekasi, hanya mengandalkan dana pensiun dari kantor. Ia tak menyiapkan dana tambahan melalui DPLK seperti halnya Nana.

Namun, menurut Damrus, bekal dana pensiun saja sudah sangat membantunya di hari tua. Sejak pensiun satu tahun lalu, ia mengaku mendapat banyak manfaat dari dana pensiun yang didapat.

Dana Tabungan Hari Tua (THT) yang diterima Damrus selepas pensiun ia manfaatkan untuk memulai usaha. Selain mengisi waktu luang, usaha itu membantu mencukupi kebutuhan pendidikan putrinya yang paling kecil yang masih duduk di bangku SMK.

Sementara dana pensiun manfaat pasti yang ia terima setiap awal bulan digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Selama ini, program pensiun di Indonesia memang memiliki dua bentuk yakni dana pensiun manfaat pasti dan dana pensiun iuran pasti.

Program dana pensiun manfaat pasti biasanya disediakan oleh pemberi kerja. Dalam program itu besaran jaminan pensiun dipatok dari persentase penghasilan terakhir dari peserta.

Misalnya setiap peserta akan meneima manfaat pensiun bulanan 70% gaji terakhir atau persentase lainnya yang ditetapkan pemberi kerja. Yang menjalankan program manfaat pasti ini di antaranya sejumlah badan usaha milik negara (BUMN) maupun program pensiun bagi pegawai negeri sipil (PNS) serta nanti setelah 2030 oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan.

Sedangkan dana pensiun iuran pasti merupakan program dengan peserta tidak memiliki patokan berapa besaran dana pensiun yang akan ia terima saat memasuki usia pensiun. Besaran dana tergantung dari pengembangan investasi yang dipilih. Artinya jumlahnya bisa sangat jauh di atas ekspektasi atau relative datar mengiringi bunga tabungan sesuai risiko yang dipilih di pasar.

Dalam program pensiun iuran pasti, peserta dan pemberi kerja sama-sama melakukan iuran dalam jumlah tertentu setiap bulan untuk kemudian oleh pengelola diputar di sejumlah instrument keuangan. Dengan begitu, imbal hasil yang didapatkan akan lebih optimal. Program ini diselenggarakan oleh DPLK yang dimiliki oleh bank ataupun perusahaan asuransi juga sejumlah Dana Pensiun Pemberi Kerja (DPPK).

Masih Rendah

Sayangnya, banyaknya manfaat dari adanya program dana pensiun ternyata tak disadari seluruh pekerja tanah air. Sejak Undang-undang Dana Pensiun ditetapkan pada 1992 atau semenjak 25 tahun lalu, kesadaran akan pentingnya dana pensiun belum tumbuh signifikan.

Survei nasional yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 2016 menunjukan indeks literasi keuangan dana pensiun baru sebesar 10,91%, sedangkan indeks inklusi dana pensiun 4,66%. Angka ini jauh di bawah indeks literasi nasional yang mencapai 29,66%.

"Angka tersebut menunjukkan pemahaman masyarakat tentang program pensiun relatif rendah," kata Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non Bank Otoritas Jasa Keuangan (IKNB OJK) Firdaus Djaelani.

Ia mencatat, dari total jumlah pekerja formal yang diperkirakan mencapai lebih dari 50,2 juta pekerja, sampai dengan 31 Desember 2016 baru sebanyak 17,81 juta pekerja yang tercatat sebagai peserta program pensiun.

Persentase ini akan semakin kecil jika menggunakan pendekatan usia kerja yang mencapai 125 juta orang.

Dari jumlah peserta dana pensiun itu artinya baru 14% masyarakat Indonesia yang memiliki perlindungan keuangan ketika pensiun.

Wakil Ketua Perkumpulan Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) Nur Hasan Kurniawan mengaku sangat miris melihat statistik kepesertaan dana pensiun saat ini.

Pasalnya, jika dibedah lebih jauh, dari jumlah angkatan kerja, baru 4,47 juta orang di akhir 2016 yang tergabung secara sukarela ke dalam sistem jaminan pensiun. Sisanya, memenuhi program wajib dari pemerintah seperti BPJS Ketenagakerjaan, Taspen ataupun Asabri.

Nur Hasan mengatakan berdasarkan salah satu hasil riset dari Amerika yang dilakukan oleh Lab42 terhadap 500 orang anak muda kelahiran 1981-2000 (generasi millennial), menunjukan kesadaran akan pensiun yang semakin membuat miris dan mencengangkan.

Riset itu menunjukan 60% anak muda telah mempunyai utang. Dari jumlah yang berutang ini 50% di antaranya kredit konsumtif melalui pemakaian kartu kredit , sementara 34% lainnya berutang guna melakukan pencicilan mobil.

Artinya 83% dari orang-orang yang berutang mengalokasikan pendapatan bulanannya untuk melunasi utang konsumtif.

Pembenahan untuk meningkatkan kesadaran pensiun ini harus segera dikelola dengan baik. Besarnya jumlah angkatan kerja hari ini, tidak boleh menjadi beban dalam beberap tahun mendatang karena mereka tidak memiliki persiapan pensiun.

Jangan sampai angkatan kerja yang besar ini justru menjadi beban bagi anak-anak mereka, yang pada saat sama harus membiayai keluarganya juga.

“Jangan sampai mereka menjadi sandwich generation. Harus menanggung orang tua di atasnya dan anak-anak dibawahnya,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
dana pensiun

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup