Proteksi Perdagangan Ancam Asia

Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan, perekonomian negara kawasan Asia sangat beresiko terpapar oleh efek negatif dari kebijakan proteksi perdagangan yang dilakukan oleh AS.
Yustinus Andri DP | 09 Mei 2017 14:00 WIB
ilustrasi - JIBI/Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA—Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan, perekonomian negara kawasan Asia sangat beresiko terpapar oleh efek negatif dari kebijakan proteksi perdagangan yang dilakukan oleh AS.

IMF dalam laporan Asia-Pacific Regional Econmic Outlook 2017 menyebutkan, perekonomian kawasan Benua Kuning berpeluang mencatatkan prospek pertumbuhan ekonomi terkuat di dunia selama dua tahun ke depan.

Produk domestik bruto (PDB) gabungan kawasan tersebut pada 2017 diprediksi akan tumbuh 5,5% atau naik dari proyeksi Oktober sebesar 5,4%. Sementara itu pada 2018, PDB Asia diprediksi akan melambat menjadi 5,4%

Adapun tingginya proyeksi tahun ini tersebeut, menurut IMF disebabkan oleh longgranya kebijakan fiskal dan moneter di sejumlah negara Asia. Kebijakan itu otomatis membuat permintaan domestik menjadi terakselerasi.

"Namun, prospek jangka dekat tampak kurang baik. Ada ketidakpastian yang tinggi terutama dari sisi perdagangan. Risiko pada keseimbangan ekonomi di kawasan ini cenderung mengarah ke negatif,” tulis IMF, dalam laporannya, Kamis (9/5/2017).

Dalam hal ini,IMF memperingatkan agar negara Asia mewaspadai rencana proteksi perdagangan AS yang dimpimpin oleh Presiden Donald Trump ke sejumlah negara. Pasalnya, sentimen dari sisi perdagangan itu akan membuat tekanan ke Asia makin tinggi setelah Bank Sentral AS (The Fed) dipastikan akan melakukan pengetatan moneter lanjutan pada tahun ini.

IMF menyebutkan, Asia sangat rentan terhadap penurunan perdagangan global karena kawasan inimemiliki rasio keterbukaan perdagangan yang tinggi, dengan partisipasi yang signifikan dalam rantai pasokan global.

Negara mitra dagang utama AS seperti China, Korea Selatan dan Jepang akan menjadi yang paling terpengaruh apabila AS melakukan proteksi perdagangan. Selanjutnya, tekanan yang dialami oleh tiga negara itu akan terpapar pula ke negara Asia lain yang menjadi mitra dagang ketiga negara itu.

Sementara itu,  Indonesia yang tergabung dalam kelompok Asean-5 versi IMF, diproyeksikan akan mengalami pertumbuhan ekonomi tertingi ketiga di bawah Filipina dan Vietnam. Seperti diketahui kelompok negara Asean 5 terdiri atas Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand dan Vietnam.

Tanah Air diprediksikan akan mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar 5,1% pada tahun ini dan 5,3% pada 2018. Level tersebut berada di bawah Filipina yang diproyeksikan tumbuh 6,8% dan Vietnam dengan 6,5% pada 2017. Sementara itu, pada periode yang sama di bawah Indonesia terdapat Malaysia dengan 4,5% dan Thailand 3,0%.

Sama seperti negara berkembang dunia lainnya, beberapa negara di Asean-5 ini juga mendapatkan sentimen positif dari mulai pulihnya harga komoditas dunia. Indonesia dan Malaysia menjadi yang paling terpengaruh.

Di sisi lain, bagi Thailand, tahun ini akan menjadi periode di mana sentimen negatif tahun lalu akan berlanjut pada tahun ini. IMF mencatatkan, penurunan pada sektor pariwisata dan konsumsi sepanjang tahun lalu, telah melukai pertumbuhan ekonomi Negara gajah Putih tersebut pada 2016.

Tag : perdagangan
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top