NPL Perbankan April Diprediksi Naik Tipis ke Level 3,07%

Rasio kredit bermasalah perbankan akan semakin berkurang dan berpotensi ditekan hingga di bawah 3% sampai akhir tahun, meski sempat menunjukkan peningkatan pada kuartal awal tahun 2017.
Ropesta Sitorus
Ropesta Sitorus - Bisnis.com 17 Mei 2017  |  06:54 WIB
NPL Perbankan April Diprediksi Naik Tipis ke Level 3,07%
Nasabah bertransaksi melalui mesin anjungan tunai mandiri. - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA - Rasio kredit bermasalah perbankan akan semakin berkurang dan berpotensi ditekan hingga di bawah 3% sampai akhir tahun, meski sempat menunjukkan peningkatan pada kuartal awal tahun 2017. 

Deputi Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial Bank Indonesia Kurniawan Agung W memprediksi rasio non performing loan (NPL) pada April mencapai 3,07%, meningkat dari catatan NPL selama Maret sebesar 3,04%.

Padahal, selama Maret NPL perbankan sempat mengalami penurunan dibandingkan Januari dan Februari yang tercatat 3,1% dan 3,16%.

"Proses konsolidasi masih jalan, kalau nanti sudah selesai konsolidasi korporasi, sejalan dengan perbaikan kondisi makro baik global maupun domestik, tentunya secara bertahap NPL akan mengikuti," katanya di Jakarta, Selasa (16/5/2017).

Agung optimistis, rasio kredit bermasalah tersebut akan dapat ditekan bila melihat permintaan kredit yang sudah semakin bertumbuh. Apalagi, secara nominal, laju pertumbuhan kredit bermasalah "gross" mulai melambat.

"Artinya tinggal tunggu waktu saja karena nominal sudah turun dan demand kredit April sudah semakin membaik. Jadi begitu total kredit secara bertahap naik, NPL otomatis akan membaik," tuturnya.

Akan tetapi, Agung tidak secara lugas menyampaikan prediksi perbaikan tingkat kredit bermasalah hingga akhir tahun. Seiring dengan kondisi perekonomian mendukung dan permintaan kredit yang terus tumbuh, menurutnya rasio NPL dapat ditekan hingga di bawah level 3%.

Dalam kesempatan terpisah, sebelumnya Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D. Hadad mengatakan hal senada. Seiring dengan pertumbuhan kredit yang membaik, restrukturisasi kredit bermasalah oleh perbankan juga semakin berkurang.

“Dengan begitu, laju NPL perbankan Indonesia ke depannya bisa berpotensi terus mengalami penurunan secara bertahap,” ujarnya.

Berdasarkan data Analisis Uang Beredar yang dilansir Bank Indonesia, hingga akhir periode kuartal I/2017 penyaluran kredit perbankan mencapai Rp4.395,4 triliun tumbuh 9,1% secara year on year. Penyaluran kredit perbankan ditargetkan tumbuh 10%-12% hingga akhir tahun.

Sementara itu, mengacu pada data Statistik Perbankan Indonesia yang dikeluarkan Bank Indonesia, sampai Februari 2017 nominal NPL mencapai Rp135,99 T dari total kredit Rp4.308 triliun.

Berdasarkan jenis penggunaannya, penyumbang NPL pada Februari adalah kredit modal kerja yang mencapai Rp76,25 triliun dari total kredit Rp1.963 triliun, disusul kategori kredit investasi sebesar Rp38,98 triliun dari jumlah total kredit Rp1.134 triliun. Terakhir, NPL kredit konsumsi mencapai Rp20,75 triliun dari total Rp1.210 triliun.

Adapun, dilihat dari lapangan usahanya, penyumbang kenaikan NPL pada dua bulan pertama tahun ini yakni pemburukan kredit bidang pertambangan dan penggalian, konstruksi, perdagangan, transportasi dan pergudangan serta industri pengolahan. Sebaliknya, sektor yang mulai menunjukkan perbaikan kredit bermasalah antara lain pertanian, perburuan dan kehutanan serta perikanan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
npl

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top