BI Diprediksi Angkat 7-DRR Ke 5% Tahun Ini

Bank Indonesia (BI) diprediksi akan menaikkan suku bunga acuannya, 7 Day Repo Rate (7-DRR), sebesar 25 basis poin sebelum akhir tahun ini.
Renat Sofie Andriani | 19 Juni 2017 15:08 WIB
Karyawan keluar dari gedung Bank Indonesia di Jakarta. - JIBI/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA – Bank Indonesia (BI) diprediksi akan menaikkan suku bunga acuannya, 7 Day Repo Rate (7-DRR), sebesar 25 basis poin sebelum akhir tahun ini.

Dalam laporannya tertanggal 16 Juni, BMI Research menyatakan bahwa langkah itu akan dilakukan demi membendung risiko arus modal keluar serta mengendalikan tekanan inflasi.

“Tekanan harga yang diperkirakan terus meningkat secara bertahap selama beberapa bulan mendatang, dikombinasikan dengan potensi aliran modal keluar, akan mendorong kenaikan suku bunga untuk menjaga makro ekonomi dan stabilitas keuangan,” papar BMI Research, seperti dikutip Bloomberg, Senin, 19/6/2017).

Perusahaan analisis pasar itu juga menjelaskan bahwa Indonesia tetap rentan terhadap arus modal keluar karena tingginya kepemilikan asing atas obligasi pemerintah berdenominasi rupiah.

Dengan demikian, hal tersebut menempatkan mata uang pada risiko penjualan apabila terjadi pengetatan kredit dan likuiditas di Amerika Serikat (AS) ataupun penghindaran risiko global.

Lebih lanjut, anak perusahaan dari Fitch Group tersebut mengatakan efek dasar yang tidak menguntungkan serta kemungkinan akselerasi dalam pertumbuhan pasokan uang karena berkurangnya cadangan wajib minimum hingga 5% dari 6,5% terlihat menjaga inflasi pada tren kenaikan bertahap selama beberapa bulan dan kuartal mendatang.

Seperti diketahui, Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang dilaksanakan pada 14-15 Juni 2017 memutuskan untuk menahan suku bunga acuan, 7 Day Repo Rate di posisi 4,75%.

“Keputusan tersebut konsisten dengan upaya BI menjaga stabilitas ekonomi nasional," ujar Direktur Eksekutif Department Komunikasi Tirta Segara, seperti dilansir Bisnis.com (Kamis, 15/6).

Dari sisi global, BI tetap mengantisipasi kenaikan Fed Fund Rate (FFR) lanjutan dan pengurangan neraca The Fed. Selain itu, BI juga menyoroti risiko penurunan harga minyak dunia.

Adapun dari dalam negeri, bank sentral fokus terhadap dampak administered prices atau harga barang dan jasa yang diatur pemerintah terhadap inflasi dan konsolidasi korporasi dan perbankan.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bank indonesia, Suku Bunga

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top