Menteri Rini Sebut Modal BTN Perlu Ditambah

Kementerian Badan Usaha Milik Negara bakal menambah modal untuk PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) sehingga kemampuan bank ‘perumahan’ tersebut semakin kuat untuk mendukung proyek rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah.
Lukas Hendra TM | 19 Juni 2017 20:37 WIB
Menteri BUMN Rini Soemarno - Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA – Kementerian Badan Usaha Milik Negara bakal menambah modal untuk PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) sehingga kemampuan bank ‘perumahan’ tersebut semakin kuat untuk mendukung proyek rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah.

Menteri BUMN Rini Soemarno mengatakan permintaan kredit untuk perumahan rakyat khususnya perumahan yang terjangkau oleh masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) sangat tinggi. Dia menilai, jika BTN didorong terus untuk program ini dengan kecukupan modal saat ini sudah sangat mepet.

“Kami sangat berharap BTN ini kemampuannya bisa dua hingga tiga kali lipat dari sekarang, dan itu memang membutuhkan tambahan modal. Agar [kepemilikan] negara tidak terdislusi, maka juga harus nambah modal,” katanya di Jakarta, Senin (19/6/2017).

Setelah naik ke posisi enam dalam jajaran 10 bank papan atas di Indonesia pada 2016, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. memasang target menjadi bank dengan aset terbesar ke-5 di Tanah Air pada akhir 2017.

Pada 2013 lalu, Bank Tabungan Negara (BTN) tercatat menjadi bank dengan aset terbesar ke-10 di Indonesia. Seiring dengan kinerja bisnis yang positif, perseroan mampu melesat ke posisi enam pada akhir 2016.

Direktur Utama Bank Maryono mengatakan, dengan laju kinerja yang berada di atas rata-rata industri perbankan nasional saat ini, perseroan diyakini mampu mencatatkan nilai aset sekitar Rp253 triliun pada akhir tahun nanti.

“Dengan target aset tersebut, kami meyakini mampu menjadi bank dengan aset terbesar kelima di Indonesia pada akhir 2017,” ujar Maryono dalam acara buka bersama BTN dengan media di Jakarta, Minggu (18/6/2017).

Pada posisi akhir tahun lalu peringkat lima bank papan atas ditempati oleh PT Bank CIMB Niaga Tbk dengan aset sebesar Rp236,95 triliun. Pada periode tersebut BTN memiliki aset Rp214,16 triliun. Namun, pertumbuhan aset BTN mencapai 24,64% secara year on year (yoy), sedangkan CIMB Niaga nyaris stagnan, yakni naik tipis 1,59%.

Untuk mencapai posisi lima terbesar di Indonesia, Maryono mengungkapkan manajemen akan menjaga laju pertumbuhan kredit dan pembiayaan sekitar 18% secara tahunan (yoy). Kemudian, penghimpunan dana pihak ketiga ditargetkan tumbuh sekitar 22%-24%.

Dalam memacu penyaluran kredit dan pembiayaan, BTN turut andil dalam meningkatkan ketersediaan rumah. Berbagai aksi dilakukan, mulai dari menciptakan pengembang handal dan bisnis properti berkelanjutan lewat Housing Finance Center (HFC), hingga menyalurkan kredit konstruksi.

BTN pun tak hanya menyalurkan kredit untuk pemilikan rumah (KPR/house financing), tapi juga pinjaman untuk kebutuhan rumah tangga (home financing). Perseroan juga menyalurkan kredit pemilikan apartemen (KPA) dan kredit konsumsi lainnya.

Untuk meningkatkan penghimpunan dana, BTN membidik segmen emerging affluent. Kelompok masyarakat yang memiliki penghasilan berkisar Rp7 juta-Rp30 juta ini, dibidik perseroan sebagai sumber pendanaan sekaligus debitur pinjaman. BTN juga berupaya menghimpun dana dari berbagai nasabah potensial dalam rantai bisnis di segmen usaha kecil dan menengah (UKM), komersial, dan korporasi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
btn

Editor : Hendri Tri Widi Asworo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top