KABAR PASAR 21 JUNI: DNI Kembali Dipangkas, Hingga BEI Siap Tambah Produk

Sejumlah berita yang layak menjadi perhatian pasar menjadi sorotan beberapa media massa hari ini, Rabu (21/6/2017), antara lain mengenai rencana pelonggaran daftar negatif investasi serta Bursa Efek Indonesia yang berencana menambah produk.
Aprianto Cahyo Nugroho | 21 Juni 2017 08:27 WIB
Pelajar mengunjungi gedung Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Jumat (5/5). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA – Sejumlah berita yang layak menjadi perhatian pasar menjadi sorotan beberapa media massa hari ini, Rabu (21/6/2017), antara lain mengenai rencana pelonggaran daftar negatif investasi serta Bursa Efek Indonesia yang berencana menambah produk.

DNI Kembali Dipangkas. Pemerintah berencana kembali melonggarkan Daftar Negatif Investasi (DNI) guna menarik lebih banyak investasi asing langsung ke Indonesia. Revisi peraturan presiden yang memayungi daftar tersebut akan digodok terlebih dahulu di Kementerian Koordinator Perekonomian. (Bisnis Indonesia)

BEI Siap Tambah Produk. Bursa Efek Indonesia siap mengantisipasi potensi melonjaknya arus modal asing ke dalam negeri seperti yang diperkirakan Bank Indonesia, dengan menambah produk di pasar modal. (Bisnis Indonesia)

PDB di Bawah Prediksi. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II/2017 berisiko lebih rendah dari proyeksi sebelumnya terpengaruh kemungkinan merosotnya nilai ekspor. Belanja masyarakat selama Ramadan dan Idulfitri menjadi penyelamat perekonomian. (Bisnis Indonesia)

BPJS Tenaga Kerja Ingin Akses Data Pajak. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan diam-diam berkirim surat ke Menteri Keuangan Sri Mulyani. Isinya: minta izin untuk ikut mengintip data-data nasabah industri keuangan yang dimiliki Direktorat Pajak, Kementerian Keuangan. (Kontan)

Transaksi Berjalan Tekan Rupiah. Rendahnya realisasi defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) pada kuartal pertama tahun 2017 diperkirakan tak bertahan lama. Bank Indonesia memproyeksikan CAD kuartal II akan meningkat dua kali lipat dari kuartal sebelumnya. Hal ini lah yang menyebabkan nilai tukar rupiah susah menguat. (Kontan)

Surat Utang Tambal Defisit Anggraran 2017. Kementerian Keuangan mendeteksi adanya pelebaran defisit anggaran tahun ini sebesar Rp30 triliun – Rp37 triliun menjadi Rp367 triliun – Rp370 triliun. Juumlah defisit sebesar 2,6% dari PDB itu rencananya akan diajukan dalam RAPBN-P 2017. (Kontan)

Tag : sentimen pasar
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top