Tambal Pelebaran Defisit, Kemenkeu Targetkan Pinjaman US$1 Miliar

Pemerintah menargetkan pinjaman dana senilai US$ 1 miliar sebagai upaya menambal defisit yang diprediksi melebar dari target sebelumnya 2,41% menjadi sekitar 2,6% terhadap produk domestik bruto (PDB) tahun ini.
Dewi Aminatuz Zuhriyah | 22 Juni 2017 13:45 WIB
ilustrasi - JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA-- Pemerintah menargetkan pinjaman dana senilai US$ 1 miliar sebagai upaya menambal defisit yang diprediksi melebar dari target sebelumnya 2,41% menjadi sekitar 2,6% terhadap produk domestik bruto (PDB) tahun ini.

Kendati, Direktur Strategis dan Portofolio Utang Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, Scenaider Siahaan mengatakan pemerintah baru mengantongi komitmen pinjaman senilai US$500 juta.

Menurutnya, upaya alternatif untuk menutup pelebaran defisit anggaran tersebut bisa diperoleh dari penerbitan Surat Berharga Negara (SBN).

Dalam hal itu dia mengatakan komposisi terbesar penerbitan surat utang tersebut pastinya akan diperbesar untuk rupiah, meski tidak menutup kemungkinan juga akan menambahkan dari SBN berdenominasi valas.

"Namun tetap saja batas maksimal untuk SBN valas itu 25% nanti bisa kita upsize di 30%, maksimal. Tapi tetap kita maintain (jaga), supaya portofolio kita nanti jangan tiba-tiba kok lebih banyak valas. Kita juga tidak mau kebanyakan (penerbitan SBN) valas," kata Scenaider, Kamis (22/6/2017).

Tak hanya itu, Schneider juga mengatakan bahwa pihaknya juga tidak menutup kemungkinan akan menaikkan porsi penerbitan pinjaman dalam valuta asing yakni Euro bond.

Dimana, Euro bond tersebut masih belum pasti diterbitkan pada Juli besok, bahkan bisa jadi diterbitkan di Agustus mendatang.

"Masih belum pasti, itu ternyata kalau untuk Euro dimungkinkan masih ada rencana juga sih bisa sampai ke Agustus. Saya gak ngerti persisnya juga timingnya. karena timingnya itu melihat market," tuturnya.

Sementara itu, selain menarik dana dari penerbitan SBN untuk menutup pelebaran defisit APBN 2017, pemerintah juga telah memperoleh komitmen pinjaman dari beberapa lembaga pembiayaan multilateral.

"Pinjaman luar negeri kita usulkan naik, itu sebagian dari ADB, World Bank, dan lainnya. Itu yang kita coba jajaki. Pinjaman yang sudah direncanakan US$1 miliar, sekarang yang teridentifikasi sekitar US$500 juta komitmennya. Kita tinggal cari US$500 juta lagi,"pungkasnya.

Tag : Neraca Perdagangan, defisit transaksi berjalan
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top