Laporan Economic Insight: Permintaan Domestik Pendorong PDB Asia

Menurut laporan terbaru dari Economic Insight: South East Asia, The Institute of Chartered Accountants in England and Wales (ICAEW), permintaan domestik akan menjadi pendorong utama pertumbuhan di kawasan Asia.
Stefanus Arief Setiaji | 22 Juni 2017 14:06 WIB
Singapura - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA — Pelambatan ekspor yang meluas di wilayah Asia bagian timur dan tenggara diperkirakan akan meredakan momentum pertumbuhan kawasan Asia.

Menurut laporan terbaru dari Economic Insight: South East Asia, The Institute of Chartered Accountants in England and Wales (ICAEW), permintaan domestik akan menjadi  pendorong utama pertumbuhan di kawasan Asia.

Dengan kinerja yang kuat pada kuartal pertama, prospek ekonomi Asean masih optimistis. Pertumbuhan utama pada wilayah Asean didorong oleh Malaysia dan Thailand, sementara itu momentum mereda di Singapura, Filipina, Vietnam, dan Indonesia. Pertumbuhan ekonomi di Indonesia diprediksi tetap bertahan di kisaran 5%.

Secara keseluruhan, pertumbuhan Asia akan meredam di bawah pengaruh luasnya pengurangan ekspor walaupun permintaan domestik stabil. 

Ekspor pada kuartal kedua dimulai kurang baik dan tren ini hadir di seluruh Asia. Kunci ekonomi utama, termasuk China dan Singapura, juga mengamati penurunan dalam pertumbuhan volume ekspor.

Di Singapura, impor China diprediksi moderat setelah kenaikan kuat pada kuartal pertama 2017. Di Malaysia, ekspor bersih berkurang 2,9% dari pertumbuhan PDB kuartalan akibat lonjakan impor.

Priyanka Kishore, Penasihat Ekonomi ICAEW & Pimpinan Ekonom Oxford Economic, mengatakan setelah hasil kuartal pertama yang positif, pihaknya telah meningkatkan prospek pertumbuhan untuk beberapa ekonomi Asia, termasuk Malaysia dan Thailand.

“Kami berhati-hati dalam perkiraan yang kami susun karena berbagai hambatan utama pada peningkatan pertumbuhan kuartal pertama di kawasan ini. Kami memperkirakan pertumbuhan Asia Tenggara akan kembali ke 4,5% pada kuartal empat 2017, dengan pertumbuhan PDB setahun sedikit lebih tinggi dari 2016,” ujarnya melalui keterangan resmi, Kamis (22/6/2017).

Di sisi lain, permintaan domestik diperkirakan akan terus mendorong pertumbuhan Asia Tenggara pada tingkat yang stabil. Ruang bantuan moneter untuk merangsang permintaan domestik masih terbatas karena kombinasi berbagai faktor seperti memburuknya inflasi, tingkat utang yang tinggi, kekhawatiran stabilitas keuangan, penurunan transmisi kebijakan moneter, dan keinginan untuk memberi keleluasan kebijakan jika terjadi guncangan eksternal.

Selain itu, Filipina, Malaysia dan Indonesia diperkirakan akan menaikkan suku bunga di kuartal mendatang. Ada juga kurangnya keinginan politik untuk mengeksplorasi pilihan kebijakan ekspansi fiskal.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
indonesia, Pertumbuhan Ekonomi, china, singapura

Editor : Stefanus Arief Setiaji

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top