Penurunan Daya Beli Masyarakat, Asuransi Jiwa Tak Terpengaruh

Bisnis.com, JAKARTA Masih signifikannya pendapatan premi di industri asuransi jiwa dinilai menegasi isu penurunan daya beli masyarakat Indonesia pada tahun ini.
Oktaviano DB Hana | 30 Agustus 2017 12:08 WIB
Ilustrasi - Lifehacker

Oktaviano DB Hana

 

Bisnis.com, JAKARTA – Masih signifikannya pendapatan premi di industri asuransi jiwa dinilai menegasi isu penurunan daya beli masyarakat Indonesia pada tahun ini.

Direktur Ekesekutif Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Togar Pasaribu mengatakan pertumbuhan premi asuransi jiwa hingga saat ini masih cukup tinggi. Baik premi baru dan terutama premi lanjutan, jelasnya, mengalami peningkatan pesat.

Data Otoritas Jasa Keuangan tentang statistik asuransi per Juli 2017 menunjukkan menunjukkan pendapatan premi industri asuransi jiwa senilai Rp90,70 triliun atau bertumbuh 26,07% (year-on-year/yoy). Pasalnya, pada Juli 2016 pendapatan premi industri tercatat senilai Rp71,95 triliun.

“Dari data baru ini, keliatan kalau isu menurunnya daya beli tdk mempengaruhi asuransi jiwa,” ujarnya kepada Bisnis, Rabu (30/8/2017).

Togar menilai saat ini kesadaran masyarakat terkait pemanfaatan dana untuk menabung dan investasi kian meningkat. Asuransi jiwa sebagai salah satu bentuk proteksi dari risiko masa depan dan investasi pun makin mendapat perhatian masyarakat.

“Artinya, masyarakat sudah mulai bijak dan pintar dalam menggunakan income-nya. Masyarakat sekarang cenderung menabung, berinvestasi dan proteksi diri serta keluarga,” jelasnya.

Data OJK juga menunjukkan pada Juli 2017 laba setelah pajak industri asuransi jiwa senilai Rp6,99 triliun. Realisasi itu bertumbuh 31,25% (yoy) sebab pada Juli 2016 laba bersih industri tercatat senilai Rp5,32 triliun. Namun, pada periode yang sama, hasil investasi industri asuransi jiwa menurun tipis, yakni 0,90% (yoy) menjadi Rp18,04 triliun.

 

Tag : asuransi
Editor : Anggi Oktarinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top