Jelang RDG Bank Indonesia, Ini Statement Terakhir Gubernur BI

Jelang pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia, Jumat (22/09), proyeksi pasar terpecah ke dalam dua ekspektasi yakni suku bunga turun dan suku bunga tetap.
Hadijah Alaydrus
Hadijah Alaydrus - Bisnis.com 22 September 2017  |  15:34 WIB
Jelang RDG Bank Indonesia, Ini Statement Terakhir Gubernur BI
Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo (tengah) didampingi Deputi Gubernur Senior Mirza Adityaswara (kiri) dan Deputi Gubernur Perry Warjiyo - ANTARA/Akbar Nugroho Gumay

Bisnis.com, JAKARTA - Jelang pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia, Jumat (22/09), proyeksi pasar terpecah ke dalam dua ekspektasi yakni suku bunga turun dan suku bunga tetap.

Sebanyak lima ekonom dari 11 ekonom yang disurvei Bisnis memperkirakan hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 22 September 2017 akan menurunkan 7DRR menjadi 4,25% dari 4,75%.

Penurunan suku bunga diyakini dapat membantu mendorong penyerapan likuditas perbankan di dalam negeri lebih cepat dari ekspektasi awal. Di tengah ekspektasi pasar terhadap suku bunga, 7 Day Repo Rate (7DDR), BI sebelumnya sudah mempaparkan beberapa risiko yang menjadi perhatiannya.

Dalam Orasi Dies Natalis Fakultas Bisnis dan Ekonomi Universitas Indonesia, Rabu (20/09), Agus D.W. Martowardojo menuturkan stabilitas rupiah saat ini merupakan perkembangan yang baik bagi bisnis dan laju inflasi di dalam negeri.

“Namun, kita tidak boleh lengah, kita sangat harus waspadai perkembangan di AS, di mana walaupun kemungkinan menaikkan FFR sudah semakin menurun, tetapi arahnya ekonomi AS membaik,” ujar Agus.

Terhadap perkembangan tersebut, BI tetap waspada terhadap kenaikan FFR yang diperkirakan naik sebanyak tiga kali pada 2018 dan minimal dua kali pada 2019.

Selain itu, Agus juga memaparkan normalisasi balance sheet the Fed akan memberikan dampak bagi Indonesia sehingga BI berharap kebijakan tersebut dapat dikomunikasikan dengan baik agar pasar tidak kaget. Jika tidak ada komunikasi, dia yakin reaksinya akan sangat besar. “Seperti yang saya katakan, kita perlu waspada,” ujarnya.

Pasalnya, Agus mengungkapkan pemulihan ekonomi Indonesia tengah berjalan. Namun, pemulihan tersebut tidak sekuat yang diperkirakan. Kendati inflasi terjaga, BI masih waspada terhadap sektor korporasi dan perbankan yang masih dalam proses konsolidasi.

“Kalau sektor korporasi dan perbankan tidak cepat konsolidasi itu akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia.”

Lebih lanjut, BI juga mengkhawatirkan pertumbuhan konsumsi yang tidak sekuat diharapkan karena pihaknya melihat pendapatan riil petani dan nilai pendapatan buruh bangunan mengalami penurunan. Konsumsi yang belum tumbuh signifikan tersebut, lanjut Agus, merupakan dampak dari ekspansi konsumsi pemerintah yang lebih rendah pada semester I / 2017

Selain itu, BI melihat return dari penghasilan perusahaan labour intensive lebih rendah dari perusahaan yang bersifat capital intensive. “Sehingga kami masih lihat pertumbuhan ekonomi masih diatas 5,1%-5,2%,” ujar Gubernur BI.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bank indonesia

Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top