Meski Defisit Lebih Rendah, RAPBN 2018 Diklaim Tetap Ekspansif

Bisnis.com, JAKARTA - Target defisit sebesar 2,19% menjadi sinyal bahwa anggaran pendapatan dan belanja negara (RAPBN) 2018 dirancang dalam batas defisit yang aman agar meski ekspansif, kondisi APBN tetap sehat dan produktif.
Edi Suwiknyo | 25 September 2017 15:45 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (kiri), berdiskusi dengan Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution, saat konferensi pers nota keuangan dan RUU APBN TA 2018 di Jakarta, Rabu (16/8). - JIBI/Dwi Prasetya

 

Bisnis.com, JAKARTA - Target defisit sebesar 2,19% menjadi sinyal bahwa anggaran pendapatan dan belanja negara (RAPBN) 2018 dirancang dalam batas defisit yang aman agar meski ekspansif, kondisi APBN tetap sehat dan produktif.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Suahasil Nazara mengatakan, batas defisit yang disetel lebih rendah di bawah outlook 2017 itu diharapkan bisa mendukung APBN yang memang dirancang cukup ekspansif.

"Dengan begitu, APBN bisa mendukung kegiatan produktif untuk meningkatkan kapasitas, produksi, dan daya saing," kata Suahasil di Badan Anggaran (Banggar) DPR, Senin (25/9/2017).

 Adapun, arah kebijakan pemerintah terkait dengan defisit dan pembiayaan terus dirancang secara hati-hati. Defisit yang dirancang 2,19% tersebut, juga didukung rasio utang pemerintah tetap di bawah 30%, proyeksi pemerintah pada 2018 rasio utang tetap terjaga di angka 29% serta defisit keseimbangan primer senilai Rp78 triliun.

"Ketiga hal ini mengindikasikan APBN lebih sehat dan produktif tetapi tetap siklus yang ekspansif," ungkapnya.

Utang dalam RAPBN 2018 dirancang senilai Rp399,2 triliun. Dengan pembiayaan utang tersebut, diharapkan bisa digunakan untuk pembiayaan yang produktif dan menjaga stabilitas makroekonomi.

Tag : rapbn
Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top