KABAR PASAR 25 SEPTEMBER: Siasat Ritel Hadapi Disrupsi, Arah Pasar Saham Disetir Bunga Acuan

Berita tentang strategi pebisnis ritel di tengah menjamurnya model pemasaran online serta imbas positif kebijakan bunga rendah terhadap pasar modal menjadi sorotan sejumlah media massa hari ini, Senin (25/9/2017).
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 25 September 2017  |  08:50 WIB
KABAR PASAR 25 SEPTEMBER: Siasat Ritel Hadapi Disrupsi, Arah Pasar Saham Disetir Bunga Acuan
Karyawan memantau pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (11/9). - ANTARA/Sigid Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA – Berita tentang strategi pebisnis ritel di tengah menjamurnya model pemasaran online serta imbas positif kebijakan bunga rendah terhadap pasar modal menjadi sorotan sejumlah media massa hari ini, Senin (25/9/2017).

Berikut rincian topik utama dari sejumlah media nasional hari ini:

Siasat Ritel Hadapi Disrupsi. Tekanan terhadap usaha ritel, di tengah menjamurnya model pemasaran dalam jaringan atau online, membuat para pebisnis mau tak mau harus mengubah strategi. Tren belanja daring tersebut tak hanya memukul para pengusaha ritel, tetapi juga pengembang pusat perbelanjaan saat ini, karena mendisrupsi model bisnis ritel konvensional. (Bisnis Indonesia)

Ekspor Sepeda Motor Meroket. Kinerja ekspor kendaraan roda dua pada bulan lalu mencatatkan kenaikan yang cukup fantastis, yakni sebesar 90,72%. Secara volume, total ekspor pada bulan lalu mencapai 43.391 unit. Adapun capaian pada Agustus tahun lalu hanya sebanyak 22.751 unit. (Bisnis Indonesia)

Variabel Penduduk Miskin Dihapus. Pemerintah tengah memacu peran kapasitas fiskal daerah untuk menentukan skema pendanaan melalui penghilangan variabel jumlah penduduk miskin dalam formulasi kapasitas fiskal seperti yang tercantum dalam PMK No. 119/PMK.07/2017. (Bisnis Indonesia)

FTA Tuai Defisit US$2 M. Indonesia harus hati-hati mempercepat negosiasi 16 perjanjian perdagangan bebas (free trade agreement/FTA) dengan negara-negara mitra. Alih-alih mendatangkan keuntungan, FTA baru justru merugikan industri dan perekonomian nasional jika tidak dipertimbangkan secara matang. Dari enam FTA yang telah berjalan saja, Indonesia selalu menuai defisit perdagangan setiap tahun. Pada Januari-Agustus 2017, defisit mencapai US$2 miliar. (Investor Daily)

Arah Pasar Saham Disetir Bunga Acuan. Kebijakan bunga rendah akan berimbas positif pasar modal. Setelah pekan lalu Bank Indonesia menggunting suku bunga acuan BI 7-day reverse repo rate menjadi 4,25%, pasar saham domestik berpotensi meningkat. (Kontan)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Suku Bunga

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top