Aset Perbankan Sentuh Rp7.000 Triliun

Aset perbankan dalam negeri tercatat menggapai rekor baru dengan menembus ke level Rp7.000 triliun pada Agustus 2017. Kenaikan aset lebih banyak ditopang kenaikan penghimpunan dana dibandingkan dengan penyaluran kredit.
Ropesta Sitorus | 29 September 2017 18:29 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Aset perbankan dalam negeri tercatat menggapai rekor baru dengan menembus ke level Rp7.000 triliun pada Agustus 2017. Kenaikan aset lebih banyak ditopang kenaikan penghimpunan dana dibandingkan dengan penyaluran kredit.

Otoritas Jasa Keuangan menyampaikan, pada bulan ke delapan tahun ini, total aset perbankan mencapai Rp7.022 triliun, naik 4,34% dibandingkan Desember tahun lalu (year to date/ytd) yang berada di posisi Rp6.730 triliun.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengungkapkan kenaikan tersebut masih jauh dari ekspekatasi. Pertumbuhannya aset bank jauh di bawah kenaikan aset industri keuangan nonbank (IKNB) yang naik 9,43% ke level Rp2.100 triliun (ytd).

"Angka pertumbuhan kredit maupun aset perbankan memang relatif tidak seperti harapan semula," katanya di Jakarta, Rabu (27/9/2017) malam.

Kenaikan aset perbankan banyak ditopang pertumbuhan dari sisi pendanaan. Total dana pihak ketiga (DPK) bank umum tumbuh di level 4,4% (ytd) atau 9,6% (yoy).

Adapun, pertumbuhan penyaluran kredit hanya tercatat 8,26% (yoy), meningkat tipis dibandingkan bulan sebelumnya yang tumbuh 8,2% (yoy).

Secara terpisah, Direktur Keuangan dan Treasuri PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. Iman Nugroho Soeko menyatakan aset perseroan tumbuh cukup signifikan.

Sampai Agustus 2017 tercatat aset naik 16,1% (yoy) menjadi Rp235 triliun. Kenaikan itu didorong oleh kenaikan kredit sebesar 20,08% (yoy) menjadi Rp183,6 triliun serta kenaikan dana sebesar 13,9% menjadi Rp177,3 triliun.

BTN optimistis pertumbuhan penyaluran kredit masih dapat dijaga di level 20% - 22% sampai akhir tahun. Hal ini demi mewujudkan ambisi perseroan yang membidik kenaikan aset 18,1% menjadi Rp253 triliun per akhir 2017 agar dapat menempati peringkat kelima bank beraset terbesar.

Sampai akhir Desember 2016, BTN masih menempati posisi keenam bank beraset terbesar dengan jumlah aset Rp214,16 triliun.

Di lain pihak, PT Bank Mega Tbk. juga mencatatkan pertumbuhan aset yang ditopang kenaikan pendanaan. Direktur Utama Bank Mega Kostaman Thayib mengatakan aset emiten berkode sama MEGA tersebut naik 6,3% (ytd) atau 11,5% (yoy) dari Rp65 triliun menjadi Rp72,5 triliun per Agustus 2017.

"Kenaikan aset selain ditopang DPK, juga dipengaruhi kredit yang mulai tumbuh serta faktor lain seperti bonds," katanya kepada Bisnis, Kamis (28/9).

Dia menuturkan, total DPK perseroan naik  17% (yoy) ke level Rp54,3 triliun. Adapun, total penyaluran kredit naik tipis 2,1% (yoy) ke level Rp30,7 triliun. Mayoritas kredit tersebut disalurkan ke sektor komersial, korporasi, UKM serta ritel dan konsumer.

Kerja Intermediasi

Sebagai informasi, jumlah aset bank umum nasional sampai akhir 2013 masih ada di level Rp4.954 triliun dengan jumlah bank 120 bank. Selama 2015-2016 total aset perbankan terus menanjak ke level Rp6.000-an triliun.

Menilik data Statistik Perbankan Indonesia, pada Juni 2017 lalu, total aset bank untuk pertama kalinya menembus level Rp7.025 triliun dengan jumlah bank menyusut menjadi 115 bank. Akan tetapi, pada Juli 2017, total aset 115 bank umum di Tanah Air malah turun lagi ke level Rp6.964 triliun.

Wimboh mendorong agar pertumbuhan kredit perbankan terus dipacu agar pertumbuhan aset dapat stabil. Pasalnya, perbankan dinilai masih kurang ekspansif dalam penyaluran kredit ke sektor riil, terutama infrastruktur, kendati asetnya terus menanjak.

Padahal, lanjut Wimboh, likuiditas perbankan yang tersedia untuk penyaluran kredit cukup besar dengan total dana berputar setiap minggu sebesar Rp400 triliun - Rp500 triliun.

Dalam bahan paparan yang disampaikan Wimboh saat Raker dengan Komisi XI disebutkan, salah satu tantangan perbankan yakni meningkatkan keterlibatan dalam  pembiayaan infrastruktur.

Dari kebutuhan pembiayaan program strategis nasional sebesar Rp4.197 triliun, industri perbankan dan sektor jasa keuangan lainnya diperkirakan hanya mampu menyediakan pembiayaan Rp716 triliun pada  2017.

Adapun, dari total dana sektor jasa keuangan yang berhasil dihimpun tahun 2016 sebesar Rp538 triliun, kredit dari perbankan mengambil porsi 59% atau Rp319 triliun.

"Daya saing perbankan dan sektor jasa keuangan masih harus terus ditingkan agar bisa kompetitif. Sebab, suku bunga Indonesia masih tinggi dan pertumbuhan kredit dibandingkan GDP masih rendah."

Perbandingan aset perbankan terhadap PDB Indonesia masih 55%, jauh di bawah Filipina (94%), Thailand (123%), Malaysia (195%), maupun Singapura (279%).

Adapun, rasio kredit perbankan terhadap PDB Indonesia hanya 43%, juga jauh di bawah Filipina (61%), Thailand (125%), Singapura (129%), dan Malaysia (134%).

Tag : perbankan
Editor : Farodlilah Muqoddam

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top