Gubernur PBOC: Utang Tinggi, Sistem Finansial China Lebih Rentan

Sistem finansial China dinyatakan menjadi lebih rentan secara signifikan akibat tingginya utang.
Renat Sofie Andriani | 06 November 2017 14:46 WIB
Yuan - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA — Sistem finansial China dinyatakan menjadi lebih rentan secara signifikan akibat tingginya utang.

Gubernur People’s Bank of China (PBOC) Zhou Xiaochuan, yang telah menyampaikan serangkaian peringatan tentang tingkat utang negara dengan kekuatan ekonomi terbesar kedua dunia tersebut dalam beberapa pekan terakhir, mengingatkan adanya akumulasi risiko laten.

“Risiko itu di antaranya bersifat tersembunyi, kompleks, tiba-tiba, menjalar, dan berbahaya, meskipun kesehatan sistem finansial tetap baik secara keseluruhan,” tulis Zhou dalam sebuah artikel yang dipublikasikan di situs resmi PBOC, seperti dikutip Bloomberg, Senin (6/11/2017).

Menurutnya, China harus memperketat peraturan serta membiarkan pasar menjalankan ekonomi riil dengan lebih baik. Pemerintah juga harus membuka pasar dengan merelaksasi kontrol modal serta mengurangi pembatasan lembaga keuangan non-Cina yang ingin beroperasi di daratan utama.

“Utang yang tinggi adalah penyebab utama dari kerentanan finansial makro. Di sektor ekonomi riil, hal ini tercermin sebagai utang yang berlebihan, dan dalam sistem finansial, hal ini tercermin sebagai kredit yang telah berkembang terlalu cepat,” lanjut Zhou.

Pernyataan Zhou tersebut seakan mengisyaratkan bahwa para pembuat kebijakan tetap berkomitmen pada kampanye untuk mengurangi tingkat pinjaman di seluruh perekonomian China.

Kekhawatiran bahwa pihak regulator dapat mengintensifkan langkah ini pasca kongres Partai Komunis bulan lalu membantu mendorong imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun ke level tertinggi tiga tahun.

Di sisi lain, komentar Zhou yang menunjukkan perkembangan terkini retorika PBOC yang pro atas tindak penurunan utang, disebut berkontribusi terhadap pelemahan saham. Indeks Hang Seng Hong Kong pada perdagangan hari ini mengalami penurunan terbesar dalam dua pekan, sedangkan indeks Shanghai Composite turun untuk hari ketiga berturut-turut.

“Investor sangat sensitif terhadap kabar negatif mengingat pasar sedang berada di level tinggi. Komentar Zhou tentang risiko finansial telah merugikan sentimen,” kata Ben Kwong, direktur eksekutif di KGI Asia Ltd., mengacu pada pergerakan saham.

Menurut ekonom Bloomberg Intelligence Tom Orlik dan Fielding Chen, tulisan Zhou lebih cenderung seperti penjelasan mengenai prioritas yang ada alih-alih tanda bahwa bank sentral China tersebut sedang mengubah arah maupun laju langkahnya.

Namun meskipun terdapat retorika yang keras seputar penurunan utang di China, kredit terus menunjukkan ekspansi. Pembiayaan agregat melonjak ke level tertinggi dalam enam bulan sebesar 1,82 triliun yuan (US$274 miliar) pada bulan September.

Utang korporasi juga melonjak menjadi 159% dari PDB pada tahun 2016, dibandingkan dengan 104% pada 10 tahun yang lalu. Sementara itu, pinjaman secara keseluruhan naik menjadi 260%.

Tag : china, utang
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top