IMF Pangkas Proyeksi Ekonomi Indonesia, Begini Tanggapan Menkeu Sri Mulyani

International Monetary Fund atau IMF memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 5,2% menjadi 5,1% pada 2017 dan 5,3% pada 2018 mendatang.
Dewi Aminatuz Zuhriyah | 16 November 2017 08:37 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani mengikuti rapat kerja dengan Badan Anggaran DPR di Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (24/10). - ANTARA/Wahyu Putro A

Bisnis.com,JAKARTA— International Monetary Fund atau IMF memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 5,2% menjadi 5,1% pada 2017 dan 5,3% pada 2018 mendatang.

Menanggapi proyeksi IMF, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan bakal mengkaji dasar proyeksi tersebut.

Kendati, dia menilai apa yang dipaparkan oleh IMF dalam artikel IV tak jauh berbeda dengan proyeksi yang ditetapkan oleh Pemerintah, hanya saja dalam artikel tersebut IMF memang terkesan lebih berhati-hati.

“Tidak ada perbedaan yang besar, kalau pun ada faktor-faktor pendukung pertumbuhan ekonomi seperti pertama, konsumsi [yang diprediksi] IMF lebih stabil pada 5% growthnya. Mereka lebih confident, tidak ada faktor yang ciptakan shock besar, maka outlook konsumsi stabil di 5%,” kata Sri Mulyani, Rabu malam (15/11).

Kedua dari sisi investasi . Menkeu menilai IMF terkesan lebih hati-hati meskipun investasi pada kuartal III/2017 melonjak diatas 7% dari yang biasanya hanya dibawan 6%. “Kami lihat ini tanda-tanda pemulihan dan kami jaga momentumnya. Meningkatkan confident untuk lakukan belanja modal infrastruktur.”

Ketiga, terkait ekspor. Pada kuartal III/2017 ekspor tumbuh cukup tinggi diatas 17% dari yang semula tumbuh negative di kuartal yang sama tahun lalu.

“Akhir 2016 sampai awal 2017 ekspor tumbuh 6%, lalu di kuartal III/2017 melonjak di 17%.”

Selain memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi, IMF juga memberi catatan soal reformasi perpajakan untuk langkah jangka menengah pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“Mengenai perbaikan administrasi dan kebijakan sudah kami bicarakan sebelumnya dan tim reformasi pajak juga sudah melakukannya.”

Menurut Menkeu, salah satu bukti reformasi perpajakan adalah dari hasil kerja sama Ditjen Pajak dengan Ditjen Bea dan Cukai. Dia menyertakan data mengenai penerimaan pajak dari bea dan cukai yang melebihi ekspetasi, yakni yang targetnya Rp1,9 triliun menjadi Rp2,7 triliun.

Tag : sri mulyani
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top