Utang China Diprediksi Melonjak, Ancaman Krisis Finansial Sulit Dihindari

Utang China diprediksi akan melonjak dalam lima tahun ke depan atau naik hampir 70% dari produk domestik bruto negeri tirai bambu tersebut.
Renat Sofie Andriani | 21 November 2017 17:27 WIB
Ilustrasi - Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA – Utang China diprediksi akan melonjak dalam lima tahun ke depan atau naik hampir 70% dari produk domestik bruto negeri tirai bambu tersebut.

Menurut ekonom Bloomberg Economics, Fielding Chen dan Tom Orlik, total utang China akan mencapai 327% dari produk domestik bruto pada tahun 2022, dua kali lipat dari level yang dicapai pada tahun 2008

Hal ini akan menempatkan China di antara negara-negara yang paling tinggi berutang di dunia sekaligus mengurangi peluang negeri tirai bambu tersebut untuk dapat menghindari krisis finansial.

“Pertumbuhan yang cepat dan tingkat utang China yang tinggi telah menempatkannya di zona bahaya karena krisis finansial,” papar para ekonom dalam riset yang dipublikasikan hari ini, Selasa (21/11).

“Menambahkan utang yang setara dengan hampir 70% dari PDB dalam lima tahun ke depan memang tidak berarti bahwa krisis tidak dapat dihindari, tapi akan sangat mengurangi kemungkinan untuk menghindarinya,” lanjut mereka, seperti dikutip dari Bloomberg, Selasa (21/11/2017).

Gubernur People’s Bank of China (PBOC) Zhou Xiaochuan baru-baru ini mengingatkan risiko utang korporasi dan rumah tangga. Menurutnya, tingkat pinjaman yang dilakukan oleh korporasi telah sangat tinggi dan bahwasanya China perlu berhati-hati terhadap optimisme yang berlebihan yang dapat memicu penurunan secara tiba-tiba pada harga aset.

Prediksi Bloomberg atas tingkat utang di masa mendatang dibuat berdasarkan model baru yang mengasumsikan perlambatan yang moderat pada pertumbuhan, berlanjutnya penyeimbangan kembali atas struktur ekonomi terhadap jasa, stabilisasi pada intensitas kredit pertumbuhan, serta berlanjutnya penghapusbukuan berskala besar atas kredit bermasalah.

Di sisi lain, menurut mereka, ekspansi ekonomi diprediksi melambat menjadi 5,8% pada 2022 dari 6,7% pada 2016. Pertumbuhan nominal, yang lebih relevan untuk menghitung rasio utang terhadap PDB, diperkirakan melambat menjadi 7,9% pada 2022 dari 8% pada 2016.

Awal bulan ini, Gubernur PBOC Zhou Xiaochuan menyatakan bahwa sistem finansial China menjadi lebih rentan secara signifikan akibat tingginya utang.
Ia telah menyampaikan serangkaian peringatan tentang tingkat utang China serta adanya akumulasi risiko laten.

“Risiko itu di antaranya bersifat tersembunyi, kompleks, tiba-tiba, menjalar, dan berbahaya, meskipun kesehatan sistem finansial tetap baik secara keseluruhan,” tulis Zhou dalam sebuah artikel yang dipublikasikan di situs resmi PBOC.

Menurutnya, China harus memperketat peraturan serta membiarkan pasar menjalankan ekonomi riil dengan lebih baik. Pemerintah juga harus membuka pasar dengan merelaksasi kontrol modal serta mengurangi pembatasan lembaga keuangan non-Cina yang ingin beroperasi di daratan utama.

“Utang yang tinggi adalah penyebab utama dari kerentanan finansial makro. Di sektor ekonomi riil, hal ini tercermin sebagai utang yang berlebihan, dan dalam sistem finansial, hal ini tercermin sebagai kredit yang telah berkembang terlalu cepat,” lanjut Zhou.

Pernyataan Zhou tersebut seakan mengisyaratkan bahwa para pembuat kebijakan tetap berkomitmen pada kampanye untuk mengurangi tingkat pinjaman di seluruh perekonomian China.

Namun meskipun terdapat retorika yang keras seputar penurunan utang di China, kredit terus menunjukkan ekspansi. Pembiayaan agregat melonjak ke level tertinggi dalam enam bulan sebesar 1,82 triliun yuan (US$274 miliar) pada bulan September.

Utang korporasi juga melonjak menjadi 159% dari PDB pada tahun 2016, dibandingkan dengan 104% pada 10 tahun yang lalu. Sementara itu, pinjaman secara keseluruhan naik menjadi 260%.

 

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
utang china

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top