Jelang Tutup Tahun, Korporasi Siap-siap Bayar Utang Jatuh Tempo US$5 Miliar

JAKARTA Bank Indonesia mencatatkan ada kewajiban pembayaran utang korporasi yang jatuh tempo senilai US$5 miliar pada akhir tahun ini.
Fahmi Achmad | 22 November 2017 18:58 WIB
Uang dolar AS. - Antara

JAKARTA— Bank Indonesia mencatatkan ada kewajiban pembayaran utang korporasi yang jatuh tempo senilai US$5 miliar pada masa pengujung tahun ini.

Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo mengatakan kondisi utang luar negeri Indonesia saat ini dalam posisi yang aman. Utang swasta pun dinilainya tidak mengkhawatirkan.

“Silahkan korporasi melakukan pinjaman tetapi dilakukan dengan cara-cara yang sesuai dengan aspek prudential,” katanya di  Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Rabu (22/11/2017)

Dody Budi Waluyo, Asisten Gubernur Bank Indonesia menambahkan ada kewajiban pembayaran sektor swasta senilai US$5 miliar pada akhir tahun ini. Namun, posisi net pembayaran jatuh tempo bisa terpangkas menjadi US$500 juta.

“Netnya bisa US$500 juta itu karena ada withdraw pemerintah. Kami melihat ini hanya siklus biasa dan tidak mengganggu permintaan valuta asing,” kata Dody di kesempatan yang sama.

Bank Indonesia mencatatkan perkembangan Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada kuartal III/2017 relatif terkendali. Pada akhir kuartal III/2017, ULN Indonesia tercatat US$343,1 miliar atau tumbuh 4,5% (yoy).

Berdasarkan kelompok peminjam, pertumbuhan ULN dikontribusi terutama oleh ULN sektor swasta yang tumbuh 0,6% (yoy), setelah pada kuartal sebelumnya terkontraksi 1,7% (yoy).

Sementara itu, ULN publik (pemerintah dan bank sentral) tumbuh 8,5% (yoy), lebih tinggi dari 7,3% (yoy) pada kuartal sebelumnya. Perkembangan ULN ini sejalan dengan kebutuhan pembiayaan untuk pembangunan infrastruktur.

Berdasarkan jangka waktu, komposisi ULN Indonesia pada akhir kuartal III 2017 tetap didominasi oleh ULN jangka panjang. ULN berjangka panjang memiliki pangsa 86,2% dari total ULN dan pada akhir kuartal III 2017 tumbuh 3,4% (yoy), meningkat dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang tumbuh 1,5% (yoy).

ULN berjangka pendek tercatat tumbuh 11,6% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan akhir kuartal sebelumnya sebesar 10,5% (yoy).

Menurut sektor ekonomi, posisi ULN swasta pada akhir kuartal III 2017 terkonsentrasi di sektor keuangan, industri pengolahan, listrik, gas dan air bersih (LGA), serta pertambangan. Pangsa ULN keempat sektor tersebut terhadap total ULN swasta mencapai 77,0%, relatif sama dengan pangsa kuartal sebelumnya sebesar 76,6% maupun pada periode yang sama  2016 yang sebesar 76,9%.

Rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada akhir kuartal III/2017 tercatat stabil di kisaran 34% dan bahkan menurun jika dibandingkan dengan kuartal III/2016 yang sebesar 36%.

Selain itu, rasio utang jangka pendek terhadap total ULN juga relatif stabil di kisaran 13%. Kedua rasio ULN tersebut masih lebih baik dibandingkan dengan rata-rata negara peers.

 

Tag : utang
Editor : Fahmi Achmad

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top