OJK Ajak Bank Lebih Kreatif Bikin Produk Fintech

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengajak perbankan harus lebih kreatif dalam membuat produk-produk keuangan terutama produk berbasis teknologi digital atau financial technology (fintech) mengingat semakin berkembangnya perusahaan fintech dalam negeri.
Peni Widarti | 27 November 2017 17:38 WIB
Karyawan melintas di dekat logo Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Jakarta. - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, SURABAYA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengajak perbankan harus lebih kreatif dalam membuat produk-produk keuangan terutama produk berbasis teknologi digital atau financial technology (fintech) mengingat semakin berkembangnya perusahaan fintech dalam negeri.

Direktur Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan I OJK Regional 4 Jawa Timur, Dani Surya Sinaga mengatakan saat ini bank sudah tidak bisa lagi bekerja secara konvensional karena dipastikan bisa kalah bersaing dengan perusahaan fintech yang menawarkan kemudahan transaksi keuangan.

"Fintech menjadi tantangan bank saat ini walaupun sekarang banyak bank konvensional sudah mulai mengejar. Katakanlah seperti Bank BRI sudah mulai meningkatkan pelayanan dan komunikasi dengan masyarakat bahkan mereka membeli satelit," katanya saat Media Gathering Bank Mayapada-PWI Jatim akhir pekan lalu.

Dia mengatakan di Indonesia jumlah transaksi fintech saat ini mencapai Rp1,6 triliunan. Dibandingkan dengan kredit perbankan masih jauh yakni mencapai Rp40 triliunan.

"Tapi dari aspek tren, kecenderungan nasabah untuk berhubungan dengan Fintech itu semakin tinggi, dan itu realitas yang harus dicermati dan dianggap serius oleh bank. Bank harus bisa membaca ini," katanya.

Dani menjelaskan potensi fintech cukup besar apalagi banyak perusahaan fintech yang menjanjikan proses pencairan dana untuk produk kredit hanya 2-3 hari tuntas. Cara pengajuan kreditnya pun tergolong sangat mudah persyaratan dan hanya melalui sebuah aplikasi.

"Persyaratannya lebih mudah dibandingkan dengan perbankan karena calon debitur hanya memasukan data-data, mereka sudah tahu seperti apa calon nasabahnya. Mereka juga punya analis seperti bank," ujarnya.

Bahkan, lanjutnya, perusahaan fintech menawarkan bunga yang lebih rendah misalnya 1,25% untuk kredit mikro dalam bentuk kredit mingguan. Perusahaan fintech juga melakukan kerja sama dengan perusahaan asuransi untuk menjamin risiko-risiko gagal bayar.

Adapun di Indonesia saat ini terdapat 130 juta pengguna internet, di mana 80% nya memiliki sosial media. Kemudian ada 200 juta mobile subcribe yang 40% nya menggunakan smartphone.

Untuk menghadapi tantangan teknologi saat ini, imbuh Dani, perbankan juga telah menggerakkan agen Laku Pandai (layanan perbankan tanpa kantor) guna efisiensi. OJK mencatat jumlah Laku Pandai di Jatim saat ini mencapai 73.989 agen dengan jumlah nasabah 1,7 juta dan outstanding Rp293 miliar.

Dosen Jurusan Ilmu Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya, Dias Sastra mengatakan saat ini banyak anak muda mulai masuk ke fintech seperti peer to peer landing dan crowd funding. Namun begitu, perlu ada regulasi yang siap mengambil momen ini.

"Ekosistem fintech sudah terbentuk, tinggal regulaai sejauh mana mengambil momen ini. BI harus merespon inovasi dan tekonologi ini," katanya.

Selama ini, katanya, fintech masih dikendalikan oleh pasar, misalnya seperti produk GoJek dengan GoPay nya kebanyakan digerakkan oleh pasar. Sehingga seharusnya pemerintah lebih aktif merespon.

Tag : perbankan
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top