KABAR PASAR 29 NOVEMBER: Semarak IPO di Tahun Politik, Kontribusi Ekonomi Digital Siap Melesat

Sejumlah berita menjadi topik utama media massa hari ini, Rabu (29/11/2017), di antaranya mengenai optimisme atas semaraknya IPO di tahun 2018 serta mengenai kontribusi ekonomi digital.
Aprianto Cahyo Nugroho | 29 November 2017 08:08 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Sejumlah berita menjadi topik utama media massa hari ini, Rabu (29/11/2017), di antaranya mengenai optimisme atas semaraknya IPO di  tahun 2018 serta mengenai kontribusi ekonomi digital.

Berikut ringkasan beberapa berita utama media massa hari ini:

Semarak IPO di Tahun Politik. Sejumlah perusahaan sekuritas optimistis aksi penggalangan dana melalui initial public offering atau IPO tetap semarak pada 2018, kendati beberapa perusahaan mengecap hasil kurang maksimal pada pengujung tahun ini. (Bisnis Indonesia)

Kontribusi Ekonomi Digital Siap Melesat. Perkembangan ekonomi digital diprediksi terus tumbuh dan memberi kontribusi lebih terhadap PDB dalam 3 tahun mendatang. Pasalnya, pada 2020 populasi Indonesia bakal didominasi oleh generasi muda, generasi Y dan generasi milenial, sebesar 58% dari total penduduk. (Bisnis Indonesia)

Pertamina Gaet Rosneft. PT Pertamina (Persero) bersama Rosneft Oil Company, perusahaan migas asal Rusia, membentuk usaha patungan untuk membangun Kilang Tuban. (Bisnis Indonesia)

Tiga Prinsip Dasar Harus Diperkuat. Bank Indonesia menegaskan arah kebijakan ekonomi 2018 diharapkan memegang teguh tiga prinsip dasar untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang inklusif. (Bisnis Indonesia)

Megaproyek Listrik PLN Harus Jalan Terus. Di saat suara minor tentang beleid kelistrikan kian nyaring terdengar, kemarin, PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) meneken kesepakatan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terapung berkapasitas 200 MW di Waduk Cirata, Jawa Barat. Nilai investasi proyek PLTS yang diklaim terbesar di dunia itu mencapai sekitar US$ 300 juta. (Kontan)

Reformasi Pajak Syarat Moody's Menaikkan Peringkat Utang Indonesia. Lembaga pemeringkat utang Moody's mengingatkan kinerja penerimaan negara yang lemah bisa mengancam penurunan peringkat Indonesia. Reformasi perpajakan untuk mengatrol kinerja penerimaan negara jika Indonesia menjadi salah satu syarat mempertahankan peringkat utang saat ini, atau bahkan bisa naik level. (Kontan)

Proyeksi BI: Ekonomi Tumbuh 5,8%–6,2% Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2022 diproyeksikan di bawah target dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJM) tahun 2019 yang sebesar 7%. Bank Indonesia (BI) menilai target yang di dalam RPJM itu cukup tinggi. BI justru memilih target pertumbuhan moderat di kisaran 5,8%–6,2% year on year (YoY). (Kontan)

BI Siapkan Dorongan Ekonomi 2018. Perekonomi Indonesia masih akan menghadapi tantangan berat pada tahun 2018. Tak hanya datang dari dalam negeri sendiri, tantangan datang dari global (lihat tabel). Namun demikian, bank Indonesia (BI) sudah menyiapkan berbagai kebijakan agar perekonomian Indonesia melaju semakin kencang. (Kontan)

Tag : kabar pasar
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top