BCA Kembangkan Uang Elektronik Berbasis Server

PT Bank Central Asia Tbk. berencana mengembangkan produk layanan uang elektronik berbasis server yang akan terkoneksi dengan tabungan untuk memudahkan transaksi.
Ropesta Sitorus | 06 Desember 2017 21:49 WIB
Nasabah melakukan transaksi di mesin ATM Bank BCA di Jakarta. - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA – PT Bank Central Asia Tbk. berencana mengembangkan produk layanan uang elektronik berbasis server yang akan terkoneksi dengan tabungan untuk memudahkan transaksi.

Dengan integrasi tersebut, diharapkan nasabah tidak perlu lagi repot melakukan transaksi isi ulang atau top up.

Seperti diketahui, transaksi top up menjadi salah satu yang banyak dikeluhkan nasabah pengguna uang elektronik karena kerap kali dinilai merepotkan dan tidak praktis, terutama oleh pengguna jalan tol atau alat transportasi Transjakarta dan kereta commuter.

“Memang kami sedang menjajaki e-money server base dan akan disambungkan ke multi lane free flow (MLFF). Namun ini baru jalan jika tol menggunakan konsep MLFF,” kata Direktur BCA Santoso kepada Bisnis, belum lama ini.

Adapun, penerapan MLFF tersebut diproyeksikan dapat dilakukan pada tahun depan. Namun implementasinya akan tergantung pada konsorsium tol serta regulator Bank Indonesia.

Lebih lanjut, Santoso mengatakan dalam pengembangan produk baru tersebut pihaknya tidak menomor duakan kepentingan konsumen dari segi keamanan transaksi.

 “Untuk pengamanan dan perlindungan konsumen tetap terjaga,  karena perintah deduct akan dipicu dari reader MLFF dan ada rekamannya. Jadi setiap debet yang dilakukan bisa ada record-nya,” jelasnya.  

Sebagai informasi, BCA termasuk salah satu dari dua penerbit uang elektronik terbesar selain Bank Mandiri. Sampai Oktober lalu, BCA mencatatkan pertambahan kartu baru yang cukup signifikan, yakni sekitar 500.000 sampai 600.00 keping.

Dari data sebelumnya, jumlah kartu Flazz yang telah diterbitkan berada pada kisaran 12 juta keping. Adapun, sepanjang September 2017, perseroan mencatatkan volume transaksi uang elektronik prabayarnya sebanyak 591.000 kali dengan nominal transaksi Rp4,8 miliar.

Bank Indonesia mencatat, transaksi uang elektronik terus mencatatkan peningkatan sejalan dengan implementasi gerakan nasional nontunai dan elektronifikasi pembayaran jalan tol.

Direktur Sistem Pembayaran Indonesia Eny Panggabean dalam Bisnis Indonesia Economic Challenges 2018 “Keseimbangan Baru Ekonomi Digital di Jakarta, Senin (4/12) menyatakan transaksi uang elektronik merupakan salah satu penyumbang terbesar dalam total transaksi nontunai.

“Dari total 74,2 juta uang elektronik, rata-rata transaksinya mencapai 2,3 juta transaksi per hari dengan nominal Rp2,8 triliun,” katanya.

Adapun transaksi menggunakan ATM – debit mencapai 15,5 juta transaksi per hari dengan nilai Rp16,6 triliun per hari. Sedangkan rata-rata transaksi dengan harian menggunakan kartu kredit masih terbilang rendah, yakni 872.000 transaksi dengan nilai Rp802 miliar.

Tag : bca
Editor : Hendri Tri Widi Asworo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top