OJK Beri Lampu Hijau MUFG Akuisisi Bank Danamon

Otoritas Jasa Keuangan memberikan lampu hijau untuk proses akusisi sebagian saham PT Bank Danamon Indonesia Tbk. oleh Mitsubishi UFJ Financial Group Inc. (MUFG) yang diharapkan dapat rampung pada kuartal awal 2018.
Ropesta Sitorus | 07 Desember 2017 15:09 WIB
Karyawan melayani nasabah di Kantor Cabang Bank Danamon, Jakarta, Jumat (28/4). - JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan memberikan lampu hijau untuk proses akusisi sebagian saham PT Bank Danamon Indonesia Tbk. oleh Mitsubishi UFJ Financial Group Inc. (MUFG) yang diharapkan dapat rampung pada kuartal awal 2018.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Heru Kristiana menyatakan Danamon dan MUFG masih melakukan proses due diligent terkait porsi saham yang akan dilepas.

“Mereka belum masukin (permohonan atau laporan) tetapi rencana aka terus berjalan. Kita harapkan begitu (rampung awal tahun depan),” katanya di Jakarta, Rabu (6/12/2017).

Pada kesempatan yang sama, Kepala Departemen Pengawasan Perbankan II OJK Ariastiadi menambahkan baru-baru ini, perwakilan dari kedua pihak telah melakukan pertemuan dengan OJK untuk menyampaikan secara informal rencana bisnis tersebut.

Dari perbincangan tersebut, kata Ariastiadi, bank terbesar di Jepang tersebut menyatakan minatnya untuk masuk membeli saham Bank Danamon. Dari pihak Temasek Holdings Pte, perusahaan investasi Singapura yang saat ini menjadi pemegang saham mayoritas Bank Danamon, juga menyatakan rencana untuk melepas sahamnya.

Kendati begitu, para pihak tersebut belum menjelaskan secara terbuka total porsi dan nilai saham yang akan dicaplok.

Menurut Ariastiadi, bank kelas kakap berbasis di Tokyo itu kemungkinan akan mengambil 40% saham Bank Danamon yang dibagi dalam dua tahap.

“Informasi yang kami dapatkan, mereka (MUFG) mau duduk di porsi yang tidak mayoritas. Tahap keduanya sesuai batasan maksimum kepemilikan saham lembaga keuangan bank asing yang diperbolehkan di Indonesia sekitar 40%,” katanya.

Proses kesepakatan akuisisi tahap pertama, dengan porsi sekitar 20%, ditargetkan rampung pada awal tahun 2018. Setelah itu, para pihak diwajibkan memberitahukan secara formal kepada OJK.

Namun, lanjut Ariastiadi, bila nantinya jumlah saham Bank Danamon yang hendak diakuisisi MUFG mencapai lebih dari 40%, maka perusahaan harus menyampaikan permohonan perubahan pemegang saham pengendali kepada otoritas.

Sesuai ketentuan, OJK akan melakukan uji kepatutan dan kelayanan terlebih dulu sebelum menyetujui pengalihan pemegang saham mayoritas. Dia berharap proses due diligent dapat rampung lebih cepat untuk mengetahui kepastian skenario masuknya MUFG.

“Kalau proses akuisisi tidak menyebabkan perubahan saham mayoritas, artinya mereka hanya masuk sebagai minoritas ya tidak perlu fit and proper test, hanya berupa pelaporan saja kepada OJK. Tetapi kalau dia nanti mengajukan 40% atau lebih, harus melalui uji kepatutan daan kelayakan dulu,” jelasnya.

Saat ini, MUFG memiliki saham mayoritas di dua bank, yakni Bank of Tokyo Mitsubishi UFJ (BTMU) dan PT Bank Nusantara Parahyangan Tbk. (BNP).

Bila akuisisi saham tersebut teralisasi dengan porsi di atas 40%, maka MUFG terbentur dengan aturan kepemilikan tunggal atau single presence policy (SPP), yakni pembatasan kepemilikan saham, sehingga wajib melakukan merger unit bisnisnya.  

“Kalau sudah 40% di Danamon, terus (mayoritas) di BNP yang sama-sama badan hukum lokal, pasti kena ketentuan SPP, pilihannya antara membentuk holding atau merger. Tapi kami masih menunggu proposal dan due diligentnya,” paparnya.

Tag : bank danamon
Editor : Hendri Tri Widi Asworo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top