Tahan Suku Bunga, BI Utamakan Target Domestik

RDG Bank Indonesia pada 13-14 Desember 2017 memutuskan untuk mempertahankan BI 7-day Reverse Repo Rate sebesar 4,25%, dengan suku bunga Deposit Facility tetap 3,50% dan Lending Facility tetap 5,00%
Hadijah Alaydrus | 15 Desember 2017 01:54 WIB
Bank Indonesia - Reuters/Darren Whiteside

Bisnis.com, JAKARTA - Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 13-14 Desember 2017 memutuskan untuk mempertahankan BI 7-day Reverse Repo Rate sebesar 4,25%, dengan suku bunga Deposit Facility tetap 3,50% dan Lending Facility tetap 5,00%, berlaku efektif sejak 15 November 2017.

Asisten Gubernur BI Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter, Dody Budi Waluyo, mengungkapkan kebijakan tersebut konsisten dengan upaya menjaga stabilitas makroekonomi dan stabilitas sistem keuangan, serta mendukung laju pemulihan ekonomi dengan tetap mempertimbangkan dinamika perekonomian global maupun domestik.

"Tingkat suku bunga kebijakan saat ini dipandang memadai pelonggaran yg ditempuh sebelumnya telah memadai mendorong pertumbuhan ekonomi lebih membaik," ujar Dody di Jakarta pada Kamis (14/12/2017).

Dia menuturkan BI tetap mewaspadai sejumlah risiko, baik yang berasal dari global terkait rencana normalisasi  di negara ekonomi maju, serta geopolitik. Sementara itu, risiko dari domestik yang diperhatikan BI antara lain pertumbuhan kredit dan intermediasi perbankan.

Terkait dengan risiko kenaikan Fed Fund Rate, Dody menegaskan pihaknya tidak akan merespons langsung kenaikan suku bunga AS tanpa melihat target domestiknya. Kendati demikian, kenaikan FFR menjadi risiko, sama halnya dengan kenaikan harga minyak dunia. Dalam RDG BI 13-14 Desember 2017, dia menuturkan bank sentral menilai pihaknya tidak perlu menaikan suku bunga karena tidak ada tekanan di inflasi ke depannya dan transaksi berjalan masih bagus sehingga rupiah stabil.

Menurutnya, inflasi 2017 terjaga tetap rendah sekitar 3,5% (yoy) dan berada dalam kisaran sasaran inflasi 4±1%.

"Terkendalinya inflasi terutama disumbang oleh rendahnya inflasi volatile food ditopang oleh pasokan yang memadai, kebijakan stabilisasi harga pangan oleh Pemerintah, dan harga pangan global yang rendah," papar Dody.

Inflasi volatile food tersebut merupakan yang terendah dalam 14 tahun terakhir. Inflasi inti juga menurun sejalan dengan ekspektasi yang terjangkar, nilai tukar yang stabil, dan terbatasnya permintaan domestik.

Sementara itu, dia mengatakan inflasi administered prices meningkat terutama karena kenaikan tarif listrik 900 VA pada paruh pertama tahun 2017, sebagai bagian dari reformasi subsidi energi.

Andry Asmoro, Ekonom PT Bank Mandiri Tbk., menilai BI diharapkan menahan suku bunga acuan pada kisaran 4,25% hingga akhir tahun depan. Pasalnya, dia menilai BI akan mempertahankan optimalisasi bauran kebijakan pada tahun depan yang tetap menitikberatkan pada moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran dan rupiah.

"Kebijakan ini sesuai dengan perkirakan kami, melihat risiko volatilitas rupiah yang masih ada," ungkapnya.

Tag : Suku Bunga, bank indonesia
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top