Singapura Berpeluang Revisi Kebijakan Pajak Dan Moneternya

Pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil dan diiringi oleh laju inflasi yang terkendali, diperkirakan akan membuat Singapura melakukan perubahan pada kebijakan moneter dan tarif perpajakannya.
Yustinus Andri DP | 29 Desember 2017 16:12 WIB
Singapura - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil dan diiringi laju inflasi yang terkendali diperkirakan akan mendorong Singapura mengubah kebijakan moneter dan tarif perpajakannya.

Ekonom Oversea-Chinese Banking Corp. Selena Ling mengatakan pengetatan kebijakan moneter dan fiskal, seperti tarif perpajakan, akan memberikan kekuatan bagi Singapura untuk melanjutkan pertumbuhan ekonominya. Pasalnya, dia juga melihat ekonomi domestik Negeri Singa telah menunjukkan kekuatannya di mana kontribusi konsumsi domestik telah menguat melampui sektor manufaktur.

Dalam survei yang dilakukan oleh Bloomberg, PDB Singapura diperkirakan akan menembus 3,3% tahun ini dan sedikit melambat menjadi 2,8% pada 2018. Sementara itu, laju inflasi diperkirakan akan meningkat secara perlahan.

"Perekonomian global terus menguat dan masih ada momentum yang akan berlanjut dengan baik pada tahun-tahun mendatang. Ekspor masih akan menjadi penopang utama Singapura," kata kepala riset Asia di Australia & New Zealand Banking Group Ltd Khoon Goh seperti dikutio dari Bloomberg, Jumat (29/12/2017).

Dia memperkirakan laju pertumbuhan ekonomi Singapura akan menembus 4% pada 2018. Menurut Gohm dengan menguatnya perekonomian negara tersebut maka ruang bagi pengambil kebijakan untuk mengetatkan kebijakan fiskal maupun moneternya semakin terbuka.

Dia menyebutkan dengan membaiknya aktvitas ekspor maka industri domestik akan kembali bergeliat. Selain itu, dorongan lain akan datang dari konsumsi domestik dan kenaikan aktivitas konstruksi nasional.

Sebelumnya, Otoritas Moneter Singapura (Monetary Authority of Singapore/MAS) memproyeksi PDB domestik akan tumbuh mencapai 3,5% pada 2018. Sementara itu, laju inflasi inti diprediksi akan berada pada kisaran 1%-2%.

Berkaca pada proyeksi MAS, bukan tak mungkin perubahan kebijakan moneter akan terjadi. Seperti diketahui, MAS menetapkan kebijakan moneternya pada level netral pada tahun ini.

MAS menggunakan nilai tukar mata uangnya sebagai alat kebijakan utama moneternya daripada suku bunga. Ekonom Bank of America Merrill Lynch Mohamed Faiz Nagutha melihat penyesuaian kebijakan moneter Singapura akan dilakukan pada Oktober 2018. Sementara itu, Chua Hak Bin dari Maybank Kim Eng Research memperkirakan perubahan kebijakan moneter akan terjadi pada awal April 2018.

Di sisi lain, para ekonom memperkirakan perubahan kebijakan fiskal melalui penetapan tarif pajak yang baru akan dilakukan pada Februari 2018. Langkah itu diambil bersamaan dengan pengumuman anggaran negara untuk tahun depan.

Spekulasi yang berkembang saat ini menyebutkan, tarif pajak barang dan jasa akan dikerek naik untuk mendukung pendapatan nasional. Pilihan lain yang tersedia adalah menaikkan pajak bea masuk dan kepemilikan kendaraan bermotor.

Sementara itu, tarif pajak perusahaan dan pendapatan diperkirakan akan dipertahankan. Pasalnya, kedua sektor tersebut merupakan penyumbang terbesar pendapatan pemerintah dari sektor perpajakan.

Ling meyakini jika pajak perusahaan dan pendapatan ikut dinaikkan, maka menekan daya saing Singapura di mata pengusaha bakal tertekan. Di sisi lain, kebijakan itu akan membuat ekonomi negara kota tersebut terguncang karena AS justru melakukan hal sebaliknya. 

Sumber : Bloomberg

Tag : ekonomi singapura
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top