Tahun ini, Pariwisata Diproyeksi Jadi Penyumbang Devisa Tertinggi

Sektor pariwisata tahun ini diyakini menempati peringkat teratas sebagi penyumbang devisa negara di luar minyak dan gas, setelah tahun 2017 berhasil menempati posisi kedua.
Ipak Ayu H Nurcaya | 09 Januari 2018 11:31 WIB
Turis asing - setkab.go.id

Bisnis.com, JAKARTA — Sektor pariwisata tahun ini diyakini menempati peringkat teratas sebagi penyumbang devisa negara di luar minyak dan gas, setelah tahun 2017 berhasil menempati posisi kedua. 

Praktisi Keuangan sekaligus Ketua Tim Percepatan Pembangunan 10 destinasi pariwisata prioritas Hiramsyah S. Thaib memproyeksi tahun ini sektor pariwisata akan memimpin posisi penghasil devisa negara setelah berhasil menempati urutan kedua pada tahun lalu. Saat ini pariwisata berada di bawah posisi hasil ekspor kelapa sawit, sehingga paling lama pada 2019 sudah berhasil melejit.

"Sektor pariwisata merupakan solusi atas menurunnya pendapatan negara akibat turunnya harga komoditi. Sektor pariwisata juga sejalan dengan tren perubahan gaya hidup masyarakat sekarang," katanya, Senin (9/1/2017).

Hiramsyah mengemukakan menggeliatnya sektor pariwisata juga sejalan dengan meningkatnya jumlah kelas menengah di Indonesia baik wisatawan nusantara atau domestik dan Asia serta para pensiunan dari negara-negara maju.

Sektor yang kerap dijuluki sebagai mother industry atau ujung tombak industri ini dipastikan akan membawa Indonesia menjadi bangsa yang lebih maju sebab banyak industri terikat lain menyusul. Salah satunya industri properti yang mejadi lokomotif dari 174 indutsri lainnya.

Menurutnya, TTI atau Travel, Trade & Investment merupakan resep jitu yang sudah terbukti ampuh. Sektor pariwisata juga terbukti mampu menjadi penopang dan berdaya tahan tinggi. Sehingga, kontribusinya terhadap makro ekonomi besar sekali.

Proyeksi ini juga didorong dari rencana pemerintah dalam melibatkan swasta untuk pengembangan 10 destinasi wisata baru senilai US$200 miliar atau Rp270 triliun.

Hiramsyah juga berharap pada 2019 indek pariwisata internasional masuk pada peringkat 30 besar. Angka ini naik dari posisi ke 70 pada 2013 yang naik pada angka 50 pada 2015, dan tahun lalu berhasil menempati urutan 42.

Tag : pariwisata, turis asing
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top