China Rilis Neraca Perdagangan Desember 2017, Ini Rinciannya

Kinerja ekspor dan impor China melambat pada Desember setelah mampu mencatat lonjakan pada bulan sebelumnya. Hal ini menambah tanda-tanda menyurutnya pertumbuhan ekonomi saat pemerintah berupaya memperluas langkah tegas terhadap risiko finansial dan polusi pabrik.
Renat Sofie Andriani | 12 Januari 2018 14:44 WIB
Suasana bongkar muat peti kemas di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (29/9). - JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – Kinerja ekspor dan impor China melambat selama Desember 2017 setelah mampu mencatat lonjakan pada bulan sebelumnya. Hal ini menambah tanda-tanda menyurutnya pertumbuhan ekonomi saat pemerintah berupaya memperluas langkah tegas terhadap risiko finansial dan polusi pabrik.

Menurut Badan Administrasi Bea Cukai China, ekspor China pada Desember 2017 naik 10,9% dalam dolar AS dibandingkan dengan setahun sebelumnya.

Meski melampaui proyeksi para analis untuk kenaikan sebesar 9,1%, raihan pertumbuhan ekspor pada Desember lebih rendah dari kenaikan yang dibukukan pada November sebesar 12,3%.

Sementara itu, impor China tumbuh 4,5% (y-o-y) dalam dolar AS pada bulan Desember, laju terlemah sejak mengalami kenaikan sebesar 3,1% pada Desember 2016.

Pertumbuhan impor China pada bulan lalu jauh lebih kecil daripada proyeksi para analis untuk pertumbuhan sebesar 13% serta kenaikan sebesar 17,7% pada bulan sebelumnya.

Dengan demikian, negeri panda mencatat surplus perdagangan sekitar US$54 miliar untuk bulan lalu, nilai tertinggi sejak Januari 2016. Di sisi lain, para ekonom memperkirakan surplus perdagangan China telah menyempit menjadi US$37 miliar pada Desember dari US$40,21 miliar pada November.

Dilansir Bloomberg, ekspor China untuk 2017 naik 10,8% dan impor naik 18,7% dalam yuan. Surplus perdagangan secara keseluruhan untuk 2017 mencapai 2,87 triliun yuan (sekitar US$422,5 miliar).

Data full year untuk 2017 menunjukkan ekspor China naik 7,9% dalam dolar AS, laju tercepat sejak 2013, sedangkan impor naik 15,9% atau kenaikan terbesar sejak 2011.

Namun pertumbuhan yang lebih lamban pada Desember tahun lalu memperkuat bukti perlambatan momentum pada negara berkekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut. Upaya intensif pemerintah terkait polusi berikut langkah tegas dalam mengatasi risiko utang telah membebani aktivitas.

“Meskipun data perdagangan seringkali berubah-ubah, penurunan terbaru ini (dalam volume impor) merupakan pertanda bahwa permintaan domestik mungkin telah melesu pada akhir tahun lalu,” papar Senior China Economist di Capital Economics Julian Evans-Pritchard dalam risetnya, seperti dikutip dari Reuters, Jumat (12/1/2018).

Rilis data perdagangan juga menunjukkan surplus barang-barang China dengan Amerika Serikat (AS) mencapai rekor tertingginya tahun lalu.

Surplus China dengan Amerika Serikat mencapai US$275,81 miliar pada 2017, melampaui rekor yang dibukukan sebelumnya pada tahun 2015 sebesar US$260,8 miliar.

Adapun, surplus perdagangan China dengan AS pada Desember mencapai US$25,55 miliar, dibandingkan dengan US$27,87 miliar pada November.

Kapasitas produksi yang berlebihan telah muncul sebagai gangguan perdagangan yang utama bagi AS. Hal ini mendorongnya mempertimbangkan langkah-langkah baru untuk melindungi industri dalam negeri dan pekerjaan dari banjir impor China.

Pemerintahan Presiden Donald Trump juga mempertimbangkan beberapa tindakan tarif unilateral terhadap baja, aluminium, dan praktik kekayaan intelektual China.

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top