BTN Galang Dana Rp18 Triliun untuk Ekspansi Tahun Ini

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. menyatakan pada tahun ini akan mencari pendanaan lewat wholesale funding hingga sebesar Rp18 triliun, guna mendukung target pertumbuhan kredit 2018 yang dipatok pada kisaran 22%-24%.
Puput Ady Sukarno | 13 Februari 2018 21:20 WIB
Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara Tbk. Maryono didampingi direksi lainnya memberikan penjelasan mengenai kinerja perusahaan di Jakarta, Selasa (13/2). - JIBI/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. menyatakan pada tahun ini akan mencari pendanaan lewat wholesale funding hingga sebesar Rp18 triliun, guna mendukung target pertumbuhan kredit 2018 yang dipatok pada kisaran 22%-24%.

Direktur Keuangan BTN Iman Nugroho Soeko mengatakan bahwa perseroan tahun ini memang mengincar penghimpunan dana diluar pengumpulan dana pihak ketiga (DPK) hingga sebanyak Rp18 triliun.

"Target dana wholesale kita tahun ini sebesar Rp18 triliun," ujarnya di sela Paparan Kinerja BTN 2017, di Menara BTN, Selasa (13/2/2018).

Menurut Iman, instrumen yang akan dimanfaatkan oleh emiten berkode BBTN tersebut terdiri dari securitisasi, pinjaman bilateral baik dalam maupun luar negeri, penerbitan subdebt dan juga penerbitan negotiable certificate of deposit (NCD).

"Sekuritisasi aset Rp2 triliun. Saat ini dalam proses dan diharapkan akhir Februari sudah bisa dilaksanakan, sehingga dananya sudah bisa masuk pada Maret 2018," ujarnya.

Selain itu, kata Iman, BTN berniat untuk melakukan pinjaman bilateral, baik dari dalam maupun luar negeri pada kisaran Rp5-7 triliun. Kemudian, pihaknya juga berencana menerbitkan subdebt berupa convertible loans sebesar Rp2 triliun untuk menjaga CAR pada level 18%.

Selain itu, bank BUMN yang fokus dalam pembiayaan perumahan tersebut juga membuka opsi menerbitkan negotiable certificate of deposit (NCD) sebesar Rp9 triliun.

Iman menerangkan bahwa kendati telah merencanakan pencarian dana sebanyak Rp18 triliun, namun jumlah tersebut dapat berubah sewaktu-waktu tergantung kebutuhan perseroan.

"Untuk pinjaman bilateral fleksibel, bisa Rp5 triliun sampai Rp7 triliun, begitu juga NCD bisa sekitar Rp7 triliun sampai Rp9 triliun," ujarnya.

Meski demikian, selain menghitung kebutuhan dana, BTN dalam mencari pendanaan di luar DPK tersebut juga mempertimbangkan sisi efisiensi dari masing-masing instrumen yang bakal di ambil.

Menurut Iman, dari semua opsi instrumen pendanaan itu, yang paling murah yakni pinjaman bilateral kepada sesama bank.

Pasalnya, jika pinjam dari sesama bank, BTN tidak perlu membayar fee Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan menaruh 6,5% di Bank Indonesia sebagai giro wajib minimum (GWM). "Kami tetap melihat yang paling efisien," tambahnya.

Direktur Utama Bank BTN Maryono menambahkan bahwa pada tahun ini perseroan membidik pertumbuhan DPK sekitar 19%-22%.

Sementara itu, pada 31 Desember 2017, Bank BTN telah menghimpun DPK senilai Rp192,95 triliun. Perolehan tersebut naik 20,45% yoy dari Rp160,19 triliun pada 31 Desember 2016.

Pertumbuhan simpanan masyarakat tersebut pun lebih tinggi di atas rata-rata perbankan nasional yang hanya naik sebesar 8,3% yoy (data BI).

Maryono mengungkapkan kenaikan DPK Bank BTN tersebut ditopang pertumbuhan positif giro, tabungan, dan deposito yang masing-masing tumbuh sebesar 19,21% yoy, 17,57% yoy, dan 22,42% yoy.

Dari kinerja fungsi intermediasi Bank BTN tersebut menyumbang pertumbuhan penyaluran bunga bersih perseroan sebesar 14,45% yoy dari Rp8,25 triliun menjadi Rp9,44 triliun pada kuartal IV/2017.Pendapatan bunga bersih pun turut mengerek naik laba bersih Bank BTN sebesar 15,59% yoy menjadi Rp3,02 triliun.

Tag : btn
Editor : Hendri Tri Widi Asworo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top