KABAR GLOBAL 19 FEBRUARI: Sentimen AS Tetap Membayangi, Amerika Tabuh Perang Baja China

Prospek perekonomian global yang masih dibayangi sentimen dari Amerika Serikat (AS) serta aksi proteksionisme AS terhadap serbuan baja impor mewarnai pemberitaan media nasional pada hari ini, Senin (19/2/2018).
Renat Sofie Andriani | 19 Februari 2018 08:42 WIB
Pabrik baja di Jiaxing, Provinsi Zhejiang, China - Reuters/William Hong

Bisnis.com, JAKARTA – Prospek perekonomian global yang masih dibayangi sentimen dari Amerika Serikat (AS) serta aksi proteksionisme AS terhadap serbuan baja impor mewarnai pemberitaan media nasional pada hari ini, Senin (19/2/2018).

Berikut rangkuman berita utama di sejumlah media nasional:

Sentimen AS Tetap Membayangi. Prospek perekonomian global pada sisa kuartal I/2018 masih dibayang-bayangi sentimen dari Amerika Serikat, terutama pergerakan suku bunga The Fed dan sejumlah isu geopolitik. (Bisnis Indonesia)

Pesawat Penumpang Iran Jatuh, 66 Orang Diperkirakan Tewas. Sebuah pesawat komersial jatuh, Minggu (18/2/2018), di daerah pegunungan Iran. Seluruh 66 penumpang diperkirakan tewas. Dilansir New York Times, pesawat Aseman Airlines Iran tersebut jatuh di dekat lokasi tujuan yaitu kota Yasuj, sekitar 785 km selatan Teheran. (Bisnis.com)

FBI Dituding Terlalu Fokus Selidiki Kasus Rusia. Biro Investigasi Federal (FBI) dituding terlalu fokus dalam penyelidikan kasus Rusia sehingga gagal mengantisipasi tanda-tanda yang dapat mencegah terjadinya aksi penembakan sekolah di Parkland, Florida. (Investor Daily)

Amerika Menabuh Perang Baja China. Aksi proteksionisme terus dikumandangkan Amerika Serikat (AS) guna melindungi industri dalam negeri. Kali ini, AS menabuh perang atas serbuan baja impor, utamanya baja dari China, dengan menerapkan tarif bea masuk tinggi atas impor baja dan aluminium. (Kontan)

Uber akan Menjual Lini Bisnis Asia Tenggara ke Grab. Bisnis Uber di sejumlah negara memang tengah limbung. Bahkan penyedia layanan transportasi online tersebut sudah menjual bisnisnya ke pesaing lokal di beberapa negara, separti di China dan Rusia. (Kontan)

 

Tag : ekonomi global, proteksionisme
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top