Ekonom UOB : Inflasi Sedikit Naik Jika Harga BBM Disesuaikan

Inflasi diperkirakan mengalami pick up dari 3,49% pada 2017 menjadi 4,2% tahun ini jika terjadi kenaikan harga bahan bakar minyak.
M. Richard | 22 Februari 2018 14:26 WIB
Awak mobil tangki (AMT) bersiap melakukan pengisian bahan bakar minyak ke dalam mobil tangki Pertamina di Terminal BBM Jakarta Group Plumpang, Jakarta Utara, Senin (27/11). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA -- Inflasi diperkirakan mengalami pick up dari 3,49% pada 2017 menjadi 4,2% tahun ini jika terjadi kenaikan harga bahan bakar minyak.

Ekonom UOB Enrico Tanuwidjaja mengatakan, pada 2018 akan terdapat adjustment dalam harga BBM, sehingga inflasi akan terkerek naik.

"Inflasi diperkirakan sedikit naik, karena ada adjustment contohnya di tarif listrik dan harga BBM, kan kita sudah lepas subsidi," katanya dalam Media Gathering UOB di Jakarta, Kamis (22/2/2018).

"Cuma sementara memang kalau pemerintah maupun pertamina masih bisa menahan mungkin harga masih akan sedikit oke," imbuhnya.

Namun katannya, harga minyak yang tinggi akan membuat pemerintah tidak mempunyai cara selain meningkatkan harga BBM secara perlahan.

Adapun berdasarkan catatan Bisnis, harga minyak tanah, minyak solar, bensin RON 88 per 1 Januari 2018 masing-masing Rp2.500/liter, Rp5.150/ liter, dan Rp6.450/liter. Harga tersebut berlaku hingga 31 Maret 2018.

Jika kenaikan harga BBM terjadi, kata Enrico, inflasi diperkirakan berada di kisaran 4,2% pada tahun ini, atau masih dalam range Bank Indonesia 3,5% +- 1%.

Selain itu dia mengatakan, kenaikan inflasi juga akan memperlebar current account defisit (CAD).

"Karena perminataan domestik yang akan mengalami kenaikan, CAD kita akan sedikit melebar," imbuhnya.

Adapun, CAD pada 2017 adalah 1,7%, dan BI memperkirakan tahun ini CAD akan berada pada level 2%.

Tag : Inflasi
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top