Bukopin Bidik Raihan Fee Based Income Rp30 Miliar dari Wokee

PT Bank Bukopin Tbk. membidik tambahan raihan pendapatan berbasis komisi [FBI/fee based income] hingga mencapai kisaran Rp30 miliar melalui platform digitalnya yang bernama Wokee.
Puput Ady Sukarno | 22 Februari 2018 02:35 WIB
Bank Bukopin - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA -- PT Bank Bukopin Tbk. membidik tambahan raihan pendapatan berbasis komisi [FBI/fee based income] hingga mencapai kisaran Rp30 miliar melalui platform digitalnya yang bernama Wokee.

Direktur TI dan Pengembangan Bisnis Bank Bukopin, Adhi Brahmantya mengatakan bahwa melalui aplikasi Wokee maka nasabah tidak perlu lagi membawa kartu ATM [anjungan tunai mandiri] kemana-mana. Pasalnya dengan layanan digital ini memungkinkan nasabah melakukan tarik tunai tanpa menggunakan ATM.

"Lewat Wokee ini saja kita harapkan bisa mendorong penambahan fee based income kita sebesar Rp30 miliar," ujarnya kepada Bisnis, di sela peluncuran Program Cashback Aktivitas Purchase Public Utilities, di Menara Kibar, Rabu (21/2) sore.

Pihaknya optimistis dapat merealisasikan target tersebut. Pasalnya kehadiran Wokee yang dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan transaksi dan payment masyarakat dengan proses digitalisasi tersebut bakal direspons positif seiring perkembangan genarasi milenial yang cenderung tidak mau ribet dan instan.

Aplikasi Wokee diluncurkan pertama kali pada Desember 2017. Kali ini dilakukkan relaunching sembari mengeluarkan promosi berupa program cashback aktivitas purchase public utilities bagi nasabah yang beli pulsa telepon maupun voucher listrik melalui Wokee.

"Ini adalah salah satu tahapan program aplikasi Wokee Bank Bukopin dalam hal pemasaran. Program cashback ini berlaku dari 1 Februari 2018 sampai dengan 31 Maret tahun ini. Harapan kami, program ini bikin nasabah lebih giat bertransaksi," ujarnya.

Menurutnya langkah menghadirkan layanan berbasis digital tersebut sebagai salah satu strategi perseroan untuk mengantisipasi evolusi bisnis di sektor perbankan saat ini.

"Kami akan terus memperkuat infrastruktur dan menyiapkan strategi perbankan digital dan teknologi finansial (fintech)," ujarnya.

Adhi menjelaskan bahwa langkah itu merupakan bagian dari program strategis yang disiapkan Bank Bukopin selain fokus pada bisnis dengan capital charge rendah, melakukan optimalisaal bisnis proses kredit, peningkatan CASA, rekomposisi sumber pendanaan, dan peningkatan fee based income.

Menurutnya, melalui teknologi digital pihaknya dapat menghemat beragam biaya operasional, seperti keberadaan kantor fisik untuk pembukaan rekening, yang dapat mengurangi biaya overhead.

Selain itu melalui layanan digital perbankan tersebut, diharapkan mampu menggenjot kinerja perseroan dari sisi penghimpunan dana. Setidaknya, kata dia, perseroan menargetkan dengan bantuan digital itu, perolehan dana pihak ketiga (DPK) dapat tumbuh di level 10% tahun ini.

Aplikasi Wokee juga didorong untuk meningkatkan transaksi nasabah perseroan serta mendorong pendapatan berbasis komisi (fee based income) Bukopin. "Kami target paling tidak DPK dan fee based bisa naik 10% di tahun ini lewat bantuan Wokee," tuturnya.

Sebelumnya, Adhi juga menyatakan bahwa melalui Wokee, Bukopin mengincar penambahan nasabah mencapai sedikitnya 200.000 akun baru, khususnya dari generasi milenial.

Dia mengatakan bahwa semenjak diluncurkan akhir Desember 2017 hingga saat ini sudah terdapat sekitar 3.000 akun baru yang menggunakan Wokee.

"Dengan Wokee ya harapannya minimal ada 200.000 akun baru. Sasarannya generasi milenial," tuturnya.

Sementara untuk alokasi dana investasi pengembangan digitalisasi di Bukopin, termasuk pengembangan Wokee tersebut, perseroan saat ini sudah menggelontorkan dana sebesar Rp60 miliar.

"Opex [operasional expenditure] kita untuk ini sekitar Rp60 miliar," ujarnya. Menurutnya perseroan masih bakal menganggarkan sejumlah dana lagi untuk penyempurnaan aplikasi tersebut.

Tag : bukopin
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top