Inflasi Februari Diproyeksikan Lebih Rendah

Pemerintah memproyeksi inflasi pada Februari akan tercatat lebih rendah jika dibandingkan dengan periode Januari.Pemerintah memproyeksikan inflasi pada Februari 2018 akan tercatat lebih rendah jika dibandingkan dengan periode Januari.
Ipak Ayu H Nurcaya | 23 Februari 2018 00:57 WIB
Pekerja memindahkan karung berisi beras di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta Timur, Jumat (19/1). - ANTARA/Sigid Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintah memproyeksikan inflasi pada Februari 2018 akan tercatat lebih rendah jika dibandingkan dengan periode Januari.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), indeks konsumen mengalami inflasi sebesar 0,62% per Januari 2018. Andil beras terhadap inflasi Januari tercatat 0,24%

Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Iskandar Simorangkir mengatakan saat ini harga beras sudah dipastikan turun secara bertahap. Menurutnya, beras menjadi penyumbang inflasi terbesar pada Januari lalu.

"Sekarang begitu diputuskan impor secara psikologis sudah berpengaruh. Itu ada penurunan sedikit apalagi sekarang sudah datang berasnya," ujarnya pada Kamis (22/2/2018).

Dia menambahkan harga beras selalu menjadi concern pemerintah sebab share pembentukan beras terhadap garis kemiskinan mencapai 22%.

Jadi, jika bergejolak, tutur Iskandar, bukan hanya petani yang susah, tetapi mayoritas masyarakat Indonesia. Tingkat kemiskinan pun berpotensi mencuat.

Hal senada diungkapkan Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara yang memproyeksi kebijakan impor beras yang dilakukan pemerintah dapat memacu penurunan inflasi sepanjang kuartal I/2018 ini.

Dia mengemukakan efektivitas impor beras tergantung pada jumlah pasokan yang didistribusikan ke pasar. Kalau 500.000 ton disalurkan dalam dua tahap pada Februari, kemungkinan besar harga beras dipasaran bisa turun dibawah harga eceran tertinggi (HET).

"Ini ditambah dengan panen raya dari Februari hingga Maret. Bahkan, jika impornya tepat dengan panen raya, pasokan yang berlimpah bisa menciptakan deflasi volatile food," ucapnya.

Bhima mengatakan sisi negatifnya daya beli petani bisa turun. Adapun, jika dikalkulasi dampak impor beras 500.000 ton ke penurunan inflasi sekitar 0,05%.

Pemerintah, lanjut Bhima, perlu mengendalikan pasokan dan harga ayam potong, telur ayam dan komoditas pangan yang sensitif terhadap cuaca. Diprediksi hingga Maret curah hujan masih tinggi sehingga komoditas pangan yang tidak tahan lama akan mengalami kenaikan harga.

Menurut Bhima, jika kenaikan harga dinilai membahayakan inflasi, pemerintah perlu segera lakukan operasi pasar.

Tag : Inflasi
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top